Social Icons

Pages

Rabu, 14 Agustus 2013

Tas Mudik



Tas ini menghuni kamar saya hanya dua minggu saja. Bukan tas kepunyaan saya, melainkan tas milik adik saya. Tas ini penuh dengan baju-baju, jilbab, dan perintilan lainnya. Ada perasaan heran, tapi juga lega melihat isi tas adik saya ini. Heran, melihat banyaknya baju yang ia bawa dengan beragam model. Saat libur kemarin saya mengunjunginya dan tidak repot membawa banyak baju karena toh saya bisa pinjam baju darinya, tapi ternyata hal itu tidak berlaku padanya. Namun ada juga perasaan lega, karena berarti dia sudah punya stok baju dan tidak ribut meminjam baju saya, yang terkadang saat dia mau pakai, saya juga berencana untuk memakai baju tersebut, lalu bergelutlah kami di ring tinju :D *tidak sampai seperti itu kok*. Sekadar berbagi rasa, buat yang punya saudara sama jenis *sama-sama perempuan gitu maksudnya* pasti pernah merasakan hal seperti itu : berebutan baju. Atau saya dan adik saya saja yang sepertinya tercipta memang untuk meramaikan dunia dengan gelutan? 

 Saat menulis cerita ini, tas ini sudah tidak ada lagi di dalam kamar. Ia kembali manut ikut bersama adik saya. Siang tadi adik saya berangkat ke kota tempatnya kuliah. Tapi bolehlah saya masukkan tas ini sebagai bahan cerita, karena saat melihatnya teronggok di kolong kamar, saya jadi berpikir : saya tidak (atau belum) pernah merasakan mudik, sementara kakak saya, bahkan adik saya saja sudah merasakannya, dua-tiga tahun belakangan ini.

Kenapa saya belum pernah merasakan mudik? Karena keluarga inti baik dari pihak mami dan papi kebanyakan berdomisili di sini dan di Jakarta. Kakek dan nenek pun semasa hidupnya tinggal bersama kami sehingga rumah jadi tempat berkumpulnya keluarga. Jadi praktis tidak ada acara mudik saat lebaran, yang ada kita jaga gawang. Saya ingin merasakan mudik, merasakan euforianya, menyiap-nyiapkan bawaan untuk mudik, merasakan perjalanan mudik dengan buncahnya harapan akan berkumpul bersama keluarga, mungkin begitu. Seperti pulangnya adik saya saat sedang arus mudik dan dia telah memesan tiket berbulan-bulan sebelum pulang, takut tidak kebagian tiket pulang. Ah, seru sekali membayangkannya. Melakoninya? Hhm, jika ingin merasakan mudik berarti saya harus pergi dulu dari kota ini. Antara ingin dan tidak untuk saya meninggalkan kota tempat saya lahir dan tumbuh. Saya memang orang yang sulit untuk mengambil keputusan. Terkadang suka njelimet sendiri. Kalau sudah begini jadi bingung sendiri, tapi apa yang nantinya dipilih tetap harus dilakoni dengan sebaiknya toh.

Saya belum pernah merasakan mudik, dan saya ingin merasakannya kelak. Mungkin nanti saat saya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di kota lain, atau mungkin saat saya sudah berkeluarga nanti :). Wah, benak saya kembali sibuk membayangkan apa saja yang akan dibawa saat mudik kelak? Saat pulang dari mudik akan membawa apalagi? Apa satu tas cukup? Apa perlu dua koper besar dan kardus berisi oleh-oleh? Seperti adik saya yang dua minggu lalu datang ke rumah dengan membawa satu tas besar dan satu tas jinjing, namun saat kembali ke kota tempatnya kuliah membawa dua tas besar dan kardus berisi keripik pisang dan kemplang sebagai oleh-oleh. Semoga kelak saya bisa merasakan membawa tas mudik yang ternyata bisa beranak pinak saat pulang dari mudik :).


August 14th, 2013
10:21 p.m.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text