Social Icons

Pages

Rabu, 30 Maret 2016

Inteligensi Embun Pagi (Pemicu Celotehan Tak Berujung)

Dicari : yang sukarela baca Inteligensi Embun Pagi walau belum baca seri Supernova sebelumnya. Penasaran dengan gimana pengalaman membaca untuk pertama kali, perjalanannya, kesannya---apakah berujung keki (kayak saya), penasaran dan banyak tanya (emang nyebelin), jadi bacaan seru atau ‘menggangu’?
=====



((perpanjangan tangan dari goodreads))
Menyiapkan diri untuk tidak sentimental setelah menyelesaikan baca IEP dengan tidak terburu-buru membacanya dan berada tak jauh-jauh dari tisu, mengingat IEP adalah seri terakhir Supernova—novel tentang perjalanan mencari jati diri dengan berbagai permasalahan, persimpangan, drama, kejenakan yang disajikan dengan apik, gamblang, tapi juga penuh misteri. Untuk tidak terburu-buru, saya menyelesaikan membacanya dalam 3 hari. Tapi buku ini benar-benar page turner—bikin nagih untuk meneruskan membaca dengan bermacam rasa—bengong, gak ngerti balik lagi halaman sebelumnya baca lagi, ngagetin, atau pas yang sesuai prediksi (yang mana cuma secuil)  langsung histeris dalam hati, “KAAN, gue bilang apa!” Untuk berada tak jauh-jauh dari tisu, ternyata saya tak se-sentimental itu. Mungkin karena IEP yang digawang-gawang jadi seri penutup Supernova, tapi tampaknya susah untuk penulisnya mengucapkan sayonara. Dan hal ini juga yang membuat saya sebal karena masih terbentang banyak jalinan cerita dari penutup supernova ini. Tepatnya, saya sebal oleh harapan akan kisah berikutnya (mengingat banyaknya jawaban yang dibeberkan, plus menimbulkan tanya baru lagi. What de KAMSUT, DEE?!?—berarti mesti menanti-nanti lagi dong! Merogoh kocek lagi dong! AAAAAA! (At this time, I hate ‘menanti’.)

Well, saya bilang saya tidak sentimental saat menamatkan baca IEP, tapi saya masih dihantui oleh berbagai obrolan ‘gila’ tokoh-tokohnya. Memang rasanya jadi sulit menjejak realitas, Saya juga jadi kesulitan untuk membuat ulasan buku ini, karena yaaaa, banyak hal mencengangkan, mengguncang, aneh-gak-aneh, dan juga bikin keki. Maka untuk ulasan kali ini, saya ingin mendaftar apapun yang menarik perhatian saya di buku ini, tak peduli kalau bocor sana-sini alias SPOILER *tapi tau deh tega apa enggak* :D.


Hal-hal yang disuka dari IEP:
11.       Kover bling-bling—gak bisa berhenti pegang buku dan main-mainin. (ada kali 5 menitan mainin tuh buku dulu, baru dibaca! :D) Awalnya ngerasa ini dangdut banget sik bing-bling ginih, tapi pas dapet momennya, jadi ikutan pengin ngerasain sensasi bling-bling! HAA
22.      Pertemuan tiap-tiap tokoh yang mana kalau secara terpisah udah dikenal baik sama pembaca dari seri sebelumnya. Ini salah satu briliannya Supernova—novel berseri tapi di lima serinya sebelum IEP membahas tokoh-tokohnya satu per satu secara dalam. (Walau ada juga tokoh-tokoh yang awalnya ‘nebeng’, eh di IEP langsung dapat sorotan, tanpa ba-bi-bu. Merupakan kesenangan tersendiri saat melihat tokoh-tokoh bertemu—sementara pembaca udah bisa antisipasi duluan (ya elaah, ini kan si “INI ; siap-siap lu Bod ketemu ‘yang bangkit lagi’!), sementara tokoh-tokohnya masih pada syok-tapi-kudu-ada-misi-besar-yang-dijalani. Atau ada juga bagian yang pembacanya ikutan melongo, “HAH, si Sati tuh..tuh..” “Kampret, si Mpret tuh..tuh..” dan masih banyak lagi (Walau tak dipungkiri ada paparan tentang tokoh yang astaga-kok-bisa-bisanya—iya, saya ngomong soal Rana).
33.      Konsep ‘perang’ Sarvara dan Infitran-Peretas. Perangnya (tentunya) bukan adu jotos, tapi adu strategi, saling mengkalkulasi. Walau nyebelin emang kenapa Sarvara-Infiltran-Peretas baru dikenalin di Gelombang (yang  juga cuma secuil). Kan, otak ngebul semua tumplek di IEP!
44.   Juga saat Infitran dan Sarvara itu gak bisa berada dalam ‘satu tempat yang sama’. Salah satu harus menyingkir. H*ll yeah! Mereka juga gak saling membunuh. Tinggal Peretas kebingungan—but hey, there’s always a way!
55.     No one is superior than others! Saya suka kesetaraan antara Sarvara-Infiltran-Peretas. Mereka punya tugasnya masing-masing. Sarvara misalnya,walau mereka sangat kuat (Infiltran saja menghadapinya bersama Peretas, juga dibantu Umbra), tapi mereka punya keterbatasan. Bahkan Ishtar—petinggi Sarvara aja ternyata DRAMATIS, jek! *tega*. Begitu juga Infiltran, mereka perancang strategi, tapi mereka tunduk pada sekuens yang memang harus terjadi. Pun, Infitran dibuat ketar-ketir sama gugus Asko ini dan butuh keajaiban! Sementara Peretas, justru ‘kaum kuat’ yang rela sepenuhnya menjadi manusia untuk menjalankan misinya—janji yang dibuat sebelum kelahirannya.  
66.       Sisi humor Dee yang gak tau tempat nongol begitu aja. Tapi saya rasa ini jadi terapi hiburan buat penulisnya lah ya, secara dia nulis--udahlah—ampun gak kebayang proses nulisnya pasti ‘berdarah-darah’. Seperti  waktu head-to-head Peretas dan Sarvara, itu kan lagi genting yak. Tapi maju-tak-gentarnya Peretas dengan melawan Sarvara gak pakai kekuatan aneh-aneh itu mendadak lucu! Padahal kondisi lagi susah, terjepit, darurat SOS minta tolong ke siapa, tapi malah ngelucu! Tapi buat saya, kelucuannya tuh pas! Salut!

Hal-hal nyebelin dari IEP:
1.       Menumpuknya informasi yang bikin sakit kepala! HAH! Rasanya ingin tutup telinga dan tak terpengaruh akan obrolan-obrolan Kell dan Bodhi tentang siapa sebenarnya Infitran, Sarvara, Peretas? Apa misi mereka? Buat pertanyaan-pertanyaan waspada dan ingin tahu  Alfa (segala tentang dari mana Kell dapat uang, embryonic jump, belum lagi omongan ‘dewa’ Reuben tentang evolusi kesadaran (yang mana sejalan dengan obrolan Bodhi-Kell), hiperentitas—rasanya kangen dengar Kalden bilang, “satu satu Alfa. Satu satu pembaca!”
2.       “Kata ‘Tamat’ akan menggiring kita ke “Pendahuluan’ yang baru.” Tolong Dee, gak ada habisnya dah nih, ya. Sekuens tetap berlanjut :D.
3.       Dee bilang kalau Supernova adalah novel spiritual—yang mengajak pembacanya untuk bertanya, merenung, mengusik kehidupan itu sendiri. Tapi boleh dibilang, Inteligensi Embun Pagi ini daya usiknya paling kecil buat saya. Walau tak dipungkiri ada banyak hal yang bikin ‘gila dan menganggu’, tapi biar gak ‘gila’ saya menganggapnya jadi ‘dongeng’ saja :D. Gak tau kenapa untuk novel yang ini lebih kenceng ke arah fantasinya. Mungkin karena saya yang gak siap akan jawaban yang akhirnya terkuak. Tapi toh tak berhenti di situ saja—karena lahir pertanyaan-pertanyaan baru. HAA! Puyeng!
4.       Jaga Portibi dipanggil Jay-Pee sama si Bodhi. Getok juga looh baldy, Bodhi! Jaga Portibi is the Guardian of the Universe :’D.
5.       Toni menggantikan Alfa, don’t worry, ini atas rencana Alfa. Heh!
6.       Rana itu pe-re-tas! Huh, nambah-nambahin perkara kan. Mungkin ini harga yang harus dibayar oleh Dee karena memasukkan gugus kandara di sini.

Tiga tokoh tergila Supernova
3. Alfa Sagala : untuk rencana dalam rencananya...
2. Reuben : untuk apa yang tersulut dalam pikirannya. Malah jauh lebih ngerti omongannya Kell daripada omongan Reuben yang berapi-api dan notabene adalah seorang manusia tulen :D. Ribeut, jek!
1. Dimas : tau kan kalau di muka bumi ini tak luput dari ‘orang gila’. Dan tak ada yang lebih gila dari seorang yang tahan berada di sisi orang gila itu sendiri :DD.

Momen menyentuh
Jangan pikir saya akan memasukkan kisah Alfa-Ishtar sebagai momen menyentuh karena gak tahu kenapa saya pikir mereka berdua cukup kuat untuk menghadapinya (selain karena memang siklusnya begitu—kejar-kejaran gak udah udah mbulet aja itu mah). Dan beneran, saya juga gak ngerti kenapa saya gak simpatik akan api cinta Alfa-Ishtar, juga Gio-Zarah. Mungkin karena saya lagi skeptis menyoal cinta-cintaan! HAA tumbyeen.
Jadi, momen menyentuh itu jatuh kepada :
(+) Zarah dan Hara. Waktu Zarah menginap dan tidur dengan Hara (setelah ‘perang’), menyadari betapa kuat adiknya dengan tetap berada di sisi ibu. Buat Hara hal itu merupakan hal biasa, tapi tidak buat Zarah. Ah, betapa apa yang kita anggap bukan melakukan sesuatu yang luar biasa tapi bisa dipandang mengagumkan dari sisi lainnya.

(+) Waktu Ferre membaca novel Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Reuben & Dimas. Lebih ke JENG-JET sih, sebenarnya!

1 Hal yang disayangkan dari IEP:
Sayang Alfa gak head-to-head sama Ompu Togu Urat. (apeuw banget!)

Hal yang mungkin terlewatkan di IEP:
Dari seri Gelombang, bukannya Alfa pernah bermimpi ketemu teman-teman satu gugusnya, ya? Bahkan ‘Permata’ juga? (buka Gelombang halaman 95). Tapi kenapa saat Alfa ketemu teman-temannya, doi gak komentar sedikit aja, kek—saya pernah ketemu kalian di mimpi. Ini mah Alfanya lempeng-lempeng aja. Atau karena emang banyak hal yang mendesak sih ya daripada sekadar kumpul dan foto-foto, begitu kata Alfa  yang awalnya bingung ngapain juga kumpul temen segugus :D.

Hal-hal lucu di IEP:
Buanyak! Ha..ha. Yang jelas Dee masih menjaga nuansa Elektra di Petir yang emang bodor abis! Beberin beberapa aja yah momen lucu:
11.       Lagi pasang posisi apalah itu diatur Liong, eh pada nanya kenalan Sarvara/Infiltran. Elektra lagi nanya Ni Asih itu siapa? Watti itu siapa?Sampai Liong dibuat kesal sendiri :D.
22.       Waktu mendaki ke Portal bulan, terkuaklah kalau Toni anggota gugus tulen—gugus Pramuka, jek! Gara-gara menjatah minum teman-temannya.
33.       Waktu Peretas dan Sarvara duel terbuka. Peretas dengan keterbatasannya minta duel secara ‘manusiawi’—yang gak pake ilmu aneh-aneh :D.   Lagi genting tingkat dewa, eh dibuat ngakak gila waktu Toni bilang ke Simon, “Gua bisa hack lu sampai miskin, Anj*ng!” :DD
44.       Elektra yang ngarep banget diangkat adik sama Zarah :D
55.       Omongan Elektra: “sampai modaaaar!”

Menang lotere, tapi kemudian masuk ke perjudian lagi
Dari sekian banyak pertanyaan yang ada, ada satu pertanyaan kecil yang saya simpan, dan saya tak menyangka pertanyaan itu dibahas di IEP ini, dan dijawab segamblang-gamblangnya. Pertanyaan itu datang dari Bodhi: kenapa Liong memanggil Bodhi sebagai guru? Terungkaplah kalau di kehidupan masa lalu Liong adalah Peretas dan Bodhi adalah Infiltran yang rela menyebrang menjadi Peretas demi mengawal Peretas Puncak di siklus ini—yang mana sebuah pengorbanan terbesar yang dilakukan seorang Infiltran. *yaa tolong! Pas dapet undian, malah teraduk lagi dalam perjudian!*  

Permohonan kecil
Jikalau ada cerita kelanjutan Sarvara-Peretas-Infiltran dengan additional player-nya Umbra, saya mohon untuk Reuben dan Dimas dijadikan ‘manusia tulen’ saja, yah mentok-mentok jadiin umbra, lah. Tapi kenapa kemudian di akhir cerita Liong bilang harus mewaspadai beberapa individu yang dikontak Bintang Jatuh. *JENG-JET lagii!*


   Pada akhirnya, tibalah di penutup ulasan *akhrinyaah*. Untuk IEP kali ini saya mendapatkan satu hal lagi yang berharga yaitu... semuanya pada bisa baper, apalagi kita ‘manusia tulen’. :’DD Simon baper sama Firaz yang dicolong Infiltran dan jadi Peretas, kemudian sekarang dikonversi lagi. Liong baper sama Bodhi karena kisah masa lalu, Bodhi baper sama masa lalunya (si Akar), Ishtar baper level dewa sama Alfa. Alfa baper sama Ishtar dan keluarga bataknya~ laah pance lah :DDD. Yang jelas segalanya bisa terjadi. “Niat menggerakkan pikiran.” Terima kasih untuk perjalanan yang penuh warna dan tanya ini. Seperti kata Kell, “apa lagi asyiknya hidup tanpa misteri? Itu satu hal yang aku selalu cemburui dari manusia.” ((sok eta, Kell nyebrang ke Peretas*situ pikir gimpil?*)) Sebagai pembaca, walau dibuat keki berat saya tetap menunggu karya-karyanya Dee—bahkan kalau Dee buat buku resep sekalipun. Salam.

diambil dari ig :@adhamtfusama

Rabu, 27 Januari 2016

Nonton Malem

Horee... nonton bareng Mockingjay part 2! Setelah sebelumnya untuk yang part 1 saya rela nonton sendirian (hahaha gak masalah sih sebenernya, saya kan pura-pura tegar :DD).

Acara nonton kali saya ditemani sama si Sleazy, Rayu dan suaminya. Tadinya Wika mau ikutan juga, tapi berhubung dia lagi gak ada energi berlebih untuk adu argumen dan perang sama pasangan, jadilah Wika mengundurkan diri dari ngelayap nonton malem sehabis pulang kerja. Lagii, apa coba hubungannya perang sama pasangan dengan nonton malem? Coba kasih tau apaan *tengil sama Wika** :DD

Balik lagi ke acara nonton, walau gak rame-rame banget layaknya anak Pura-Pura Ninja kalau kumpul, tapi tetep seru juga. Saya senang karena walau si Sleazy belum pernah nonton film yang sebelum-sebelumnya, tapi dia tetep mau ikutan dan excited. Ohya, Sleazy ini harusnya bisa ajak suami (karena suaminya sudah tersedia :D), tapi karena lagi lembur jadi gak bisa gabung. Malahan si Zy (stands for Sleazy) melarikan diri gak langsung pulang ke rumah, ikutan nonton kita-kita *padahal nggak diajaki*kejaam* *well,gak ikut-ikutan deh :p**. Kalo Rayu mah emang udah sepaket sama suami, jadinya aman dan tenteram aje.

Waktu nonton sih berjalan seperti layaknya para teman yang pergi ke bioskop buat menikmati hiburan dalam bentuk audio visual dengan adegan dan lakon pemainnya yang lumayan apik. Lucunya, saat kami lihat tokoh di film yang gaya atau kelakuannya mirip sama teman kami, lantas kami colek-colekan sambil sibuk melabeli tokoh tersebut dengan si teman kami itu. Seperti Effie Trinket yang gayanya tuh mirip sama si Yaya. Jadilah tiap Effie keluar, kami malah sibuk panggil-panggil Yaya. Udah gitu waktu Katniss dan kawan-kawan masuk ke Panem dengan segenap perjuangan, kami malah sibuk bayangin gimana seandainya kami, geng Pura-Pura Ninja yang jadi pasukan khusus yang menerobos Panem. Hadeeeh, emang kadang nonton film yang jelas-jelas fiktif tetep aja suka dikait-kaitin ke kehidupan nyata.

Kelar nonton, udah lumayan malem, sekitar jam sembilan kurang kasih tayang gitu *meeh*. Eh iya, sebagai informasi kalau di awal tuh kami berangkat ke bioskopnya (yang mana ada di sebuah mall di bilangan kota kecil ini) dengan dua kubu : saya dan Sleazy modal nyebrang jalan besar doang, sementara Rayu dan suami naik motor. Masing-masing. Cakep nggak, tuh? Well, mungkin ini jadi deritanya Rayu yah buat gak semotor sama suaminya karena saya bakal nebeng sama Rayu heheheuu Rayu emang baeek, always. Maapkeun saya menginterupsi Rayu dan suami di jalanan raya. Nah, kalau Zy bakal dijemput suaminya. Jadilah pas kelar nonton, ke toilet bentar, sambil Zy ngehubungin suaminya. Eeh pas udah nyambung, suaminya bilang kalau lemburnya masih agak lama, Zy disuruh keliling-keliling mall dulu. Karena rada bingung juga mau ke mana dan tempat makan juga banyak yang tutup, kami memutuskan untuk... ninggalin Zy! :P Nggak diiing. Anak Pura-Pura Ninja kan pada jelmaan bidadari semua *seeeet*, dan sebenernya dipengaruhi sama aura baiknya Rayu juga sih, makanya kita mau nungguin Zy sampai dijemput. Cuma yang jadi masalah itu adalah tempat nunggunya,, di mana yang enak, tik tok tik tok tik tok. Saya bilang ke Zy biar dia ikut ke rumah saya dan dijemput di situ. Jujur saya udah kebelet pulang. Capek juga ternyata abis pulang kerja langsung cus nonton. Usul saya emang kurang praktis, jadilah ditolak. Mikir lagi..mikir lagi.. Akhirnya kita putusin untuk tunggu di pinggir jalan aja. Mantap! Jadi, mekanismenya : Saya dan Zy jalan keluar mall menuju halte, sementara Rayu dan suami jalan menuju parkiran, mengambil motor dan melaju ke halte.

Saya dan Zy sampai di halte duluan. Zy nanya-nanya soal film tadi yang mana seri sebelumnya dia belum pernah nonton. Zy jadi pengin banget nonton seri sebelumnya. Buat saya, ini salah satu serunya Zy. Dia tuh kalau lagi excited terhadap sesuatu itu keliatan, dan gak malu nanya. Kalau Zy lagi excited, dia bakal dengerin apa aja yang kita omongin, dan nangkep. Beda banget sama Zy yang kalau lagi asyik sama gadgetnya. Hadeeeh, jangan harap dah dia bakal nyimak apa cerita kita :DD. Tapi biar begitu anak Pura-Pura Ninja kayaknya pada kebel sama sifat alamiah teman se-geng, jadinya yaa dibawa asyik aja. Lama ngobrol dengan posisi berdiri, lama-lama pegel dan ya, Zy kan lagi hamil jadilah dia yang ngerasa cepet pegel dibanding saya.  Halte tempat kami nunggu gak ada tempat duduknya, tapi ada tiang penanda tempat bus berhenti yang punya undakan sedikit dan bisa ditempelin pantat buat duduk. So here we go—menanti jemputan di temaram malam, di sela sliwar-sliwernya kendaraan yang lewat, dan angin malam yang sesekali berhembus kuat. Mohon jangan masuk angin udahnya! Kami udah ngobrolin film, bandingin film ini itu, udah ngejogrok di tiang rambu, eh Rayu dan suami belum nongol juga, apalagi suaminya Zy. Belanja dulu kali ya Rayu ini? Gak lama dari berspekulasi, Rayu dan suami melipir juga di halte. Rayu ikut gabung jongkok di tepi jalan. Kami lanjut ngobrol-ngobrol lagi sambil antisipasi kalau-kalau ada orang yang kita kenal melintasi jalanan bakal bilang apaan. Yah gak tau juga sih sebenarnya apa cuma saya aja yang punya pikiran bakal pura-pura gak kenal kalau disapa sama orang yang dikenal di pinggir jalan, malem-malem gituu boo. Mana saya belum kewong **wooy, apa hubungannya, nak? :’D**


Gak tau sampe berapa lama kami ngejogrok nungguin jemputannya Zy, sementara suami Rayu setia duduk di motor. Mulai gak betah niih. Jadi tiap ada motor lewat diliatin bener-bener. Tiap ada sesosok pria menunggangi motor, kami sibuk manggil-manggil nama suaminya Zy: “Kak..kak..ini istrinya di sini! Haduuuuh maen lewat-lewat aja.” Udah deh gak mikirin lagi kalau beneran ada yang melintas terus besokannya bilang, “Miss.. ngapain kemaren malem-malem di pinggir jalan? Cegatin cogan yaa *hadeeuh*”. Setelah main panggil-panggil gaje, belum ada tanda-tanda kemunculan suami Zy. Eh padahal jaraknya tuh lumayan deket, tinggal lempeng lurus doang. Tadi kata Zy sih, suaminya udah otw. Mungkin setelah ini mereka harus samain persepsi lagi tentang konsep otw *hihii (“.)v*. Di tengah keinginpulangan saya dan keletihan karena besok mesti tempur lagi, tapi tetep kudu nunggu karena kita sayang sama Zy *azeek*, akhirnya yang ditunggu-tunggu dateng juga. Gak perlu banyak cincong lagi, langsung deh Zy menghambur ke jok belakang suami *hiih, dia mah gitu :D*. Dan sayang Rayu gak bisa ikutan adegan hambur-hamburan, karena dia musti ngendarain demi keselamatan pulang bersama *karena gak banget kalau saya yang ngendarain motornya*.  Begitulah. Acara nonton malem segelintir anak Pura-Pura Ninja yang udahnya berkeliaran di pinggir jalan raya, menantang angin, menikmati menanti sambil bersenda gurau. Walau capek, tapi kalau lagi sama-sama pasti bawaannya senang.


27 Januari 2016
17:18

Pengantar : Pura-Pura Ninja

Pura-Pura Ninja, sebuah geng yang dibentuk entah kapan tau-tau udah tercetus begitu saja. Geng ini beranggotakan wanita-wanita menggairahkan *weew*, yang kadang suka menyuarakan gairah tentang kegamangan *hayaa*. Berawal dari keberadaan kami di satu deraan kerja yang sama, membuat kami jadi mau gak mau bersatu. Dengan beragam sikap, sifat, dan pandangan dari tiap-tiap kepala, dengan segenap keterbatasan, kekurangan, dan kejelekan kami berusaha menangani problematika yang ada, atau yang cuma di awang-awang saja. Kalaupun ada masalah yang rumit untuk ditangani, maka setidaknya kami masih bisa berbagi tawa, yang mana emang jadi kerjaan anak Pura-Pura Ninja kalau udah kumpul pasti ada ketawa-tawanya, walau situasi dan kondisi dalam keadaan terdesak *haks haks :D*.

Nantinya saya akan bercerita tentang Pura-Pura Ninja : apa yang terjadi di Pura-Pura Ninja, keceriaan anak Pura-Pura Ninja, kegalauan dan kesomplakan, keluh kesah. Apa yang teringat dari suatu momen kumpul akan saya beberkan di sini #PuraPuraNinja.

Ngomong-ngomong, adakah yang bertanya-tanya kenapa nama gengnya Pura-Pura Ninja? Sebenarnya dalam hidup, ada saat di mana kita perlu untuk berpura-pura. Tapi bukan berarti hidup yang penuh kepura-puraan dan jadinya artifisial yah, semu belaka. Gak mau lah, yaw! Justru di sini tuh pura-puranya lebih ke sikap yang sebenarnya bukan kami banget, tapi di suatu kesempatan, keadaan, kondisi, kami mesti siap, dan untuk jadi siap itulah kami perlu pura-pura. Ini apaan sih bahasnya aneh gini? Kikkikikiikikik. Di sini untuk menjaga kenyamanan bersama (dan jadi ruang buat saya eksplorasi sih sebenernya :D), saya gak bakal pake nama asli temen-temen, saya bikin sendiri nama tokohnya, tapi mengacu pada anggota Pura-Pura Ninja tentunya. Dan buat anak Pura-Pura Ninja, bisa dicek nama aliasnya saya labelin jadi apa :DD. Keterangan pura-puranya didapat dari karakter kebalikan teman-teman. Walau ada juga sih yang emang sebenarnya begitu. Kayak Mbak Wani yang pura-pura jayus, padahal emang jayus abiis :DD. Nah, bisa tebak karakter berikut ini siapa aja, gangs? ;)



Saya : Pura-pura tegar
Rayu : pura-pura jahat
Sleazy : pura-pura rajin
Miaw : pura-pura tega
Puspus : pura-pura tegas
Yaya : pura-pura polos
Wika : pura-pura letih
Wani : pura-pura jayus
Wita : pura-pura cuek
Deka : pura-pura tomboy


27 Januari 2016
17:13

Senin, 18 Januari 2016

Lajang Tangguh

Sudah terlalu lama sendiri~
sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri~

Hello 2016 from the outside~! Outside manah, neng, outside planet? Hadeeeh, seperti biasa memulai ngeblog dengan banyak cincong yang itu-itu saja : maapkeuun kalau jaraang banget ngeblog lagiih. Yak, bisa dicek terakhir posting di September 2015. Itu juga karena ikutan proyek nulis dari twitter. Hahahaaa. Terlalu banyak excuses yang nggak banget buat dibeberin kenapa gak ngeblog yang ujung-ujungnya gak lain gak bukan bermuara pada satu hal : malas :DDD. Jadih, di awal tahun ini dalam upaya pencitraan biar si naturally pemalas ini gak keliatan males, mari kembali mengisi blog pribadi, membahas hal-hal yang dialami, dirasakan, atau diamati. Untuk postingan pertama di tahun ini, saya memilih membahas apa yang saya alami dan amati, yaitu perihal being single, ayeeey! :D

Sebagai wanita single berusia 17++10 yang tinggal di tanah tumpah darah tercinta dan harus menjalani hidup di tengah derasnya arus orang-orang sekitar yang memasuki masa peralihan dari single ke double, I mean even from single bed to double bed, dari yang tadinya hidupnya cuma mikirin diri sendiri (plus dirinya di keluarga, dirinya di kerjaan, dirinya di kehidupan pribadi, sosial, cyber dll), sekarang beralih jadi punya pasangan, kawan, atau lawan yang perlu dipikirkan demi keberlangsungan hidup bersama. Dan di tengah arus peralihan itu, saya masih tetap di tempat : setia jadi pengamat. Dan mengenai saya yang single tulen inih, memperhatikan apa yang terjadi dengan teman-teman tersayang yang dalam masa peralihan, saya cuma bisa nyengir menanggapi keluh kesah mereka untuk menyesuaikan diri di berbagai hal, sementara saya tak perlu repot-repot seperti mereka. Gak cuma berbagi keluh kesah, tentunya ada banyak sisi menyenangkan dari masa peralihan ini, seperti jadi ada yang peduli sama apa yang kita lakuin, ada yang merhatiin, ada tempat untuk saling berbagi dan mengisi, dan saya turut merasa senang jika masa peralihan itu berjalan baik adanya. Kalau yang sedang dalam masa peralihan ada gelombang perasaan dan segenap usaha penyesuaian yang berkecamuk di dalamnya, gimana dengan kehidupan para single yang kesannya jadi adem ayem karena gak punya kerepotan layaknya si double? Mari beri panggung untuk sisi para singles, yang seperti juga pernah dirasakan oleh jutaan umat di alam semesta ini.

Buat saya, mau apapun itu jadi single karena pilihannya, atau keadaan yang mana belum ketemu aja, atau belum berpihaknya pasar pada pribadi ini,  cuma ada dua jenis single di planet ini : single yang gak nyaman, dan single yang (mau gak mau) menyamankan dirinya sendiri. Buat single tipikal pertama, bisa dilihat dari mereka yang selalu sibuk mengupayakan berbagai cara untuk mengakhiri masa single­-nya. Anehnya, kebanyakan orang tuh jadi gak nyaman hanya karena takut dilihat sebagai seorang “single fighter”, yang ke mana-mana seringnya keliatan sendiri. Kayak apa yang dibilang Indra di bukunya Kicau Kacau, “bagaimana jika ternyata ketakutan terbesar kita untuk menikmati kesendirian adalah kemungkinan timbunya kesadaran bahwa diri kita adalah makhluk asing yang baru bisa menyenangkan ketika dilengkapi dengan kehadiran orang lain?” Kerap kali orang-orang takut untuk terlihat sendiri, sehingga memicunya untuk mencari pasangan. Kalau udah begitu, motif untuk punya pasangan jadinya agak bergeser ya: agar bisa dapat pengakuan, “ini nih, gue juga bisa dapetin pasangan.” Yah, sebenernya mau apapun motif, arah dan tujuan, mau orang tersebut single atau taken itu kembali ke pilihan masing-masing. Begitu juga untuk saat menjadi single, mau yang heboh gak tahanan untuk menyudahi kesendirian, atau mau yang stay cool menikmati fase sendirinya, atau yang oportunis : kalem-kalem macan begitu ada sinyal untuk meraih gebetan, semua balik ke pribadi masing-masing. Dan untuk menjadi single tipikal kedua; single yang menyamankan dirinya sendiri, tentunya hal ini memerlukan upaya yang lebih. Karena hey, menjadi sendiri di antara sekian banyak orang yang memutuskan untuk berpasangan (terutama yang udah jadi pasangan syah secara agama dan negara) itu perlu memiliki kelapangan hati untuk tidak iri atas kebahagiaan orang lain (hahaahey). Dan saat menjadi single, harusnya fase kesendirian ini dimanfaatkan untuk semakin mengenali diri sendiri, untuk bisa berdialog dengan diri sendiri, dealing with you yourself, dan yang paling penting, untuk bisa berbahagia dan mencintai diri sendiri,  yang mana merupakan esensi dari kebahagiaan itu sendiri.

Well, ngetik begitu soal berbahagia dan mencintai diri sendiri sih gampang, terus aplikasinya gimana? Naah, kalau saya sendiri yang lagi dalam tahapan untuk menikmati masa kesendirian (dan beneran ngerasa nyaman dan agak terlena di banyak hal), saya mencoba untuk kompromi dengan diri saya sendiri. Begini, sebagai seorang single, tentunya kita jadi punya kebebasan dan ruang gerak lebih (walau untuk yang udah taken juga sebenarnya punya kesempatan untuk mengekspresikan kebebasan). Kalau single tuh ngebuat kita jadi gak mikirin perasaan pasangan (yaa karena gak ada pasangan) saat mengambil keputusan, beda sama yang udah taken di mana seenggaknya kita perlu untuk cerita ke pasangan. But somehow buat para singles itu malah kangen untuk punya tempat untuk berbagi, tempat untuk nyampah kalau saya bilang, dan itulah momen yang tingkat ganggunya nyebelin kalau tiba-tiba bergejolak di hidup saya. Tapi, lagi-lagi karena memang fase ini yang harus saya jalani, jadi yah saya memilih untuk tetap cari cara untuk berbahagia, walau gak punya tempat nyampah, tapi akan ada blog buat sarana pengalihan nyampah :DD.


Sebenarnya ada banyak kebahagiaan yang bisa dirasakan saat menjadi single, begitu pun berlipat-lipat juga kebahagiaan yang bisa dirasakan oleh yang taken walau juga dengan problematika dan penyesuaiannya :D. Saat ini berhubung saya ada di kubu single, saya mau kasih reinforcement kalau apapun alasan, kisah dan kejadian di balik kesendirian kita, jadilah single yang tangguh ((jangan angkuh)), yang bisa memanfaatkan momen kesendirian dengan sebaik-baiknya, dengan lebih mengenali diri sendiri, lebih menggali diri sendiri, memaafkan dan menerima diri sendiri, dengan begitu membuat kita memantaskan diri dan bisa menatap kehidupan lebih cerah lagi. Walau kembali lagi teringat kata Murakami lewat tokoh Aku di Dengarlah Nyanyian Angin : “di mana pun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh.”Hear hear, jangankan single, manusia yang tangguh aja tuh sebenarnya gak ada, yang ada tuh pura-pura aja. Dan saya rasa saya bisa berkompromi ke diri saya sendiri untuk pura-pura tangguh :DD. Yuk deh, berbahagialah dengan diri sendiri dan jadilah lajang tangguh!

19 Januari 2016
10:55
 

Sample text

Sample Text