Social Icons

Pages

Sabtu, 20 Desember 2014

Finding Soulmate





"Lucu kali yaa kalo punya suami penyanyi?"




Celetukan seperti itu terlontar begitu saja di malam hari sepulang kerja saat menunggu hujan reda. Celetukan yang entahlah, sebenarnya wajar, atau terdengar putus asa, atau sekadar terbawa suasana. Saat itu saya tengah memutar lagu sembari menatap jalanan yang dibasahi hujan, yang kemudian disambar oleh angan seorang teman yang mendamba bersuamikan seorang penyanyi. What a life of twenty-something ladiez! :D

Sebagai seorang wanita yang sudah memasuki usia kepala dua, rasanya topik seputaran percintaan dan pencarian belahan jiwa (lagi, pake dibelah segala. jadi ribet sendiri kan nyarinya) menjadi makanan sehari-hari dan tak akan ada habisnya diperbincangkan (ya bow, tau sendiri kan kalo bahannya abis ya jadi kelaperan doong). Seperti yang terjadi di malam yang berhujan, hanya karena saya memutar lagu cinta dari seorang penyanyi yang emang supercharming and adorable, jadilah tercipta angan-angan untuk punya pasangan impian. Saat itu sih saya dan teman-teman gak langsung ngerumpiin perihal pasangan (secara belum ketemu atau belum ditemukan), tapi gak tau kenapa yah sayanya yang jadi kepikiran.

Jadi ginii, yang membuat saya kepikiran adalah di saat kita (terutama para wanita dengan usia 20an) belum bertemu dengan pasangan tersayang, maka yang bisa dilakukan adalah membentuk angan akan seperti apakah pasangan kita tersebut nantinya. Ada yang memasang kriteria untuk mendapatkan pasangan yang ganteng. Ada yang pengin pasangannya nanti punya jiwa kebapakan, ada yang punya selera humor yang asyik, atau ada juga yang pengin punya keahlian khusus, seperti pintar masak, pintar nyanyi, atau pintar mijit (kalau pintar akting mau juga, gak?). Terkadang kita juga jadinya mencari role model sebagai sosok pasangan idaman, seperti kalau untuk penyanyi, penginnya yang dandy and funny kayak Michael Buble, atau charming and cool kayak Adam Levine. Untuk aktor, mungkin pengin punya pasangan kayak Ryan Goosling atau si pemilik aksen seksi Jim Sturgess. Kalau ala pemain bola, pengin memiliki pasangan dengan tampang plus rekening bank milik Christiano Ronaldo, atau Bastian Schweni. Dan setiap kali memikirkan tentang akan seperti apa pasangan kita nantinya, sangatlah seru dan menyenangkan. Abisnya pasti mikirinnya yang baik-baik dan bagus dong ya. Dan setelah berangan-angan biasanya baru berpikir, “terus, bisa dapet di mana yah pasangan yang diidam-idamkan itu?”

Seperti yang terjadi pada pasangan yang saya kenal dan gak tau kenapa, berada di dekat mereka selalu menyenangkan. Keceriaan dan kehangatan selalu terpancar dari mereka berdua, dan juga kemesraan. Saya berpikir kalau pasangan ini sungguh serasi sekali dan selalu kompak sampai saya menemukan fakta yang jadinya lucu, dan ternyata pasangan ini tidaklah selalu kompak seperti yang saya pikirkan. Saat itu sang suami dengan wajah cengar-cengirnya bercerita ke saya kalau istri tersayangnya melabeli dia dengan, “a guy with no imagination”, cuma karena suaminya itu paling gak suka baca buku, sementara istrinya suka banget baca buku. Mendengarnya, saya pun cuma tertawa. Saya tak habis pikir melihat sang istri yang tak bisa lepas dari buku, sementara suaminya akan gampang sekali tertidur setiap kali baca buku, sehingga ia menghindarinya. Tapi rasanya, menilik hubungan mereka yang harmonis, hal itu bukanlah hal yang besar dan i think he got a big excuse form his wife: it’s okay you dislike reading, but you must like and love me forever :)


Sah-sah saja sebenarnya untuk punya kriteria pasangan idaman dan tersayang. Toh, buat yang belum menemukan pasangan, memang menjadi kesenangan tersendiri untuk menciptakan karakter pasangan sendiri. Namun, yang lebih seru lagi adalah  saat kita menemukan pasangan sejati. Akan banyak kejutan-kejutan , penyesuaian dan penerimaan yang mesti dilakukan apalagi kalau ternyata pasangan kita tidak sesuai dengan karakter rekaan kita sebelumnya :D. Tapi lucunya, kita akan excuse untuk kekurangan-kekurangan dari pasangan dan belajar untuk menerima pasangan kita just the way he is. Dari yang tadinya punya kriteria tinggi seperti punya suara semerdu Buble, tampang sekarismatik Michael Ballack, kantong setebel Ronaldo, lalu saat kita menemukan pasangan yang sesungguhnya, kita cuma bisa berkata sambil tertawa, “you’re the most wonderful people that i have, number one above those crazy charming guys.” But before you say it, make sure that he’s worth for all the love and privilage you are going to share ;).



...It's not easy when the road is your driver
Honey, that's a heavy load that we bear
But you know I won't be traveling a lifetime
It's cold out but hold out and do like I do
 

OhIneedyou...

*kemudian nti kalo punya anak penginnya yang punya suara merdu and supaclean macam Hanin. what a life of dreamy lives ;)*




December 21st
10:45 a.m.





Minggu, 09 November 2014

Sheila on 7 - Lapang Dada


Apa yang salah dengan lagu ini
kenapa kembali ku mengingatmu
seperti aku bisa merasakan
getaran jantung dan langkah kakimu
kemana ini akan membawaku

kau harus bisa, bisa berlapang dada
kau harus bisa, bisa ambil hikmahnya
karena semua, semua tak lagi salah
walau kau tau dia pun merasakannya

di jalan yang setapak kecil ini
seperti ku mendengar kau bernyanyi
kau tahu, kau tahu
rasaku juga rasamu

kau harus bisa, bisa berlapang dada
kau harus bisa, bisa ambil hikmahnya
karena semua semua tak lagi salah
walau kau tau dia pun merasakannya

kemana ini akan membawaku
aku tak kan pernah tahu

{long intro}

kau harus bisa, bisa berlapang dada
kau harus bisa, bisa ambil hikmahnya
karena semua semua tak lagi sama
walau kau tau dia pun merasakannya



mengirim cahaya untukmu



Sheila on 7 -- Lapang Dada (new single)


November 9th, 2014
08:45 p.m.



Jumat, 31 Oktober 2014

Dicari : Pemakan Pizza dengan Penuh Cinta

Saya bukanlah seseorang yang getol makan. Maksudnya saya gak punya tuh selera makan yang bagus, yang bikin orang saat ngeliat saya makan jadinya ketularan pengin makan. Yang ada sih pada gemes kalau liat gaya saya makan yang suka cimik-cimik, bener-bener gak nyemangatin deh. Atau terkadang saya lamaaaa sekali kalau lagi makan. Bahkan sering my mom berkomentar, "yaelah mbak, kesuen lek mangan. keburu anakmu tibo (nek wes nduwe anak)." My granpa pun sesekali kala itu berkomentar, "Gita ini kalau makan lama ya, tapi yo abis juga. Yowes alon-alon asal klakon."

Saya menyadari kalau kecepatan saya makan harus segera ditingkatkan *ya kalau gak mau anaknya suka jatoh* ya tapi kan belum punya anak yak?* Saya setuju banyak hal yang perlu dilakukan dan butuh waktu yang lebih banyak, yang sayang rasanya kalau hanya dihabiskan untuk perkara makan. Saya pun sebenarnya tak selalu makan dengan lambat dan tak bergairah. Jika menu makanannya yang saya mau dan saya suka, maka saya bisa makan dengan kecepatan rata-rata atau luar biasa, tentunya penuh gairah pula. Namun yah, mengingat dunia bukanlah pabrik pewujud keinginan *kata Augustus Water sih ya* dan dengan segala keterbatasan saya untuk bisa mendapatkan makanan yang saya inginkan dan butuh proses yang belum saya akrabi saat ini *iya, mau ngomong masak aja jadi pance yah*, maka saya seringkali berhadapan dengan makanan yang tak terlalu ingin saya makan.

Apakah saya pemilih makanan? Rasanya tidak juga. Saya sadar diri karena kemampuan masak saya masih payah, jadi saya hanya nerimo makanan apa yang tersaji. Dan ya, saya memakannya. Saya juga tak punya pantangan makanan apa-apa *sujud syukur*. Namun adakalanya di saat selera makan saya kacau *speednya berantakan, makan gak dinikmati lagi*, maka saya perlu mencari variasi menu makanan. Dan akhir-akhir ini, saya sedang pengin makan pizza. Ya, percaya atau tidak, mencari partner makan itu merupakan PR dalam kehidupan *maaf, susah cari analogi gitu deh*. Rasanya kalau gak ketemu partner makan yang gak sealiran itu kurang seru yah. Dan saya yang termasuk belum bisa mengisi PR untuk siapakah partner makan pizza yang asyik, yang punya sense of appetite yang asyik, yang kalau ngeliat orang itu makan jadi ikutan semangat makan *sumpah, mbaknya mau makan aja berasa ikutan lomba pake semangat-semangat segala* pasang ikat kepala* Sempat ada partner makan yang sealiran: suka makan pizza, bakso, siomay, Mr. Celups, tapi doi sekarang udah nikah dan masih rempong menempuh hidup barunya *iya, saya tungguin kamu sampai si baby gedean dan bisa dititip-titipin :D*

Nah, sembari di masa penantian inilah saya jadi kepikiran untuk dapetin partner in crime in eating pizza. Pengin ngajakin my mom, tapi dianya kalau diajak ke tempat pizza sukanya cimik-cimik aja *paling banter pesen salad.* Ngajakin my sister, entar sayanya tombok :D. Kalau sama My dear friends, sepertinya pada gak getol banget makan pizza. Sementara saya maunya itu orang juga doyan makan pizza. Pengin makan bareng orang yang nyenengin, yang kalau ngeliatnya jadi ketularan lahap makan, yang syukur-syukur punya sense of treating alias suka nraktir *tapi saya rela kok kalau suruh bayar masing-masing* Namun hey, sebelum cari partner-partneran, gimana kalau polanya yang saya ubah? Gimana kalau gak taunya sayalah yang "dicari" untuk bisa jadi partner makan yang asyik, menyenangkan, yang penuh semangat. Hayoo, bisa gak coba? Well, kalau ada yang beneran nyari nih ya, I promise I try my best! Jadi, coba ah biar kalau makan keliatan semangat dan berselera, jadinya menyenangkan, dan kalaupun belum terlihat seperti itu, mau gak kalau saya jadi pemakan yang penuh kasih dan cinta? *iki opooo* Dan jangan duka jangan lara, saya bisa jadi partner yang aman lah karena saya si pemakan segala. haha.




October 31st, 2014
11:55 p.m.

Minggu, 24 Agustus 2014

Hal-Hal yang Dulu Sering Dilakukan tapi Kini Jarang Bahkan Hampir Tidak Pernah

Hatchiiiiiiim -- Haduh duh, permisi ya mau bersihin debu dulu. Ini blog udah ampe sawangan gini. ckckckckck. Hhhmm, kayaknya udah rada bersihan *cepet amaat bersih-bersihnya*. Ya udahlah, marilah langsung menulis-nulis saja.


Jadi gini... ceritanya lagi pengin buat list tentang apa gitu ya *tentangpriaidamancobanyaya *yabebas*yatapikagakok*. Maka jadilah saya buat daftar hal-hal seperti yang tertera di judul postingan kali ini *males ngetiknya lagi*.

1. Ironing the mountain of clothes.
  "Huah, libur hari Minggu ini mesti beresin setrikaan." Tak jarang kata-kata itu yang terdengar dari teman-teman saya di saat akhir pekan, ketika sedang membicarakan rencana di hari Minggu. Dan harusnya saya bisa bernapas lega karena saya kini terbebas dari acara menyetrika. Sebenarnya saya cukup senang menyetrika. Posisi nyetrika favorit adalah lesehan di depan tipi, yang kemudian kalau capek saya bisa selonjoran, kemudian rebahan, sampai ketiduran di alas setrikaan :D. Sampai akhirnya si mami memutuskan untuk langsung saja melipat baju-baju yang baru dicuci dan silakan masukkan ke lemari masing-masing. Jadilah di rumah menganut paham ironing when it's needed. Dan tak jarang, baju-baju yang saya kenakan yang tidak terlalu perlu disetrika. Sungguh praktis dan terselematkan dari acara yang bikin pegal dan gerah, but actually I enjoy it *in some case*

2. Latihan masak.
Kapan terakhir kali kamu masak? Hhhmm, kalau yang dimaksud masak adalah sekadar masak air *what?! kelewataaan*, atau masak mie instan atau telor ceplok, itu pun sepertinya seminggu yang lalu hahaa. Saya memang paling malas kalau sudah berurusan dengan masak-memasak. Lebih milih bersih-bersih deh daripada acara masak-masak yang rempong dan prosesnya panjaang. Tapi biar begitu, saya pernah semangat buat belajar masak. Sempat terpaku di bagian resep masakan kalau ada bazar buku *iyaa, biar cuma liat resep pun udah suatu niat yang besar loh buat saya*, terus fotoin penjelasan cara masaknya. Kemudian dipraktekkin? Kagak :DD. Tapi percayalah, semangat untuk belajar masak itu ada dan saya sempat rajin mencoba terjun di dapur sendiri walau hasilnya cukup memprihatinkan. Satu tahapan yang belum bisa saya atasi dan paling rempong saat masak adalah tahapan mencicipi. Itu bener-bener menguji kesabaran dah, apalagi kalau masakannya udah ditambahin ini itu tak kunjung sedap. Tapi sekarang lagi gak se-semangat kala waktu itu.

3. Libur yang menghibur = bepergian
Buat saya, saat libur adalah saat di mana kita harus menjadi segar, senang, dan terhibur, Dan hal itu bisa didapat dengan bepergian. Bepergiannya bisa ke mana saja: ke rumah saudara, ke rumah teman, ke mall, ke toko buku. Pokoknya tidak berdiam di rumah saja. Dalam seminggu kan ada satu hari libur tuh. Nah, satu hari itu bisa dipakai dua atau tiga jamnya untuk keluar rumah. Namun sekarang rasanya hal itu tak berlaku lagi. Saat libur adalah saat di mana kita harus menjadi segar, senang, terhibur, dan tenang. Saat ini saya malah lebih senang mengisi waktu libur dengan membersihkan rumah (nyapu, ngepel, nyuci), kemudian merawat diri. Rasanya menenangkan saat mencium wangi detergen dan wangi cairan pembersih lantai yang *katanya* beraroma terapi. Rasanya pun jadi menyenangkan kalau lihat rumah lebih bersih dan agak lebih rapi. Saya malah menunggu-nunggu hari libur untuk kembali merapikan rumah (bagian-bagian mana yang belum terjamah).

4. Being noisy.
Hey, gak nyangka kan kalau saya anaknya berisik dan bawel, ya kan ya kan? ;) Tapi benar kok, saya rasa saya sudah gak seberisik yang dulu *bahkan saya pun rada lupa loh gimana sejarahnya saya bisa berisik* Ehiyaa, gara-gara kapan itu saya beres-beres terus nemu kesan-kesan dari teman SMA. Banyak yang bilang kalau saya tuh cerewet, ceplas-ceplos dan galak haha :D *tapi saya baik juga kok*dalam rangka pemulihan nama baik*. Dan sungguh deh, mungkin karena faktor U *iye, u untuk untu, eh umur* udah keabisan energi kali ya buat berbawel-bawel ria. Mungkin saya juga lebih menahan diri untuk tidak banyak bicara daripada menyakiti *aseek*apanya yang asek*. Tapi serius, terkadang saya masih suka mikir, "aku seberisik apa sih dulu", dan ya, kadang pengin juga jadi bawel lagi *lantas sepertinya jadi banyak cincong di blog ini ya, boow*

5. Talking to strangers.
Yeaaa, I really miss this moment, but it seems like there's no enough space & of course no more time for strangers haha :D. But I do enjoy talking to strangers. It's like you can tell them all you want, and you get their reactions, and it's up to you to take their advice or just throw it away :DD. Somehow, I'm quite extrovert to the strangers. Then remember the rule, stranger is stranger.

6. Bersenandung di jok belakang motor.
Sekarang sih kalau mau tiba-tiba nyanyi-nyanyi takutnya diturunin sebelum sampai tujuan hahaa. Lagian sadar suara aja sih ya, udah nebeng motoran, eh si pengemudinya dikasih polusi suara segala pake acara nyanyi-nyanyi. Entah kenapa sempat berani-beranian bersenandung gak jelas sepanjang perjalanan. Tapi sekarang sih malah jadinya ngerumpi kalau bareng sama teman tersayang.


7. Bilang rindu seenak jidat.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------no description------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Emang jidat itu enak?



August 24th, 2014
11:33 p.m.

Sabtu, 21 Juni 2014

Menikahimu

menantimu 

hingga saat

cintaku

temukan dirimu

usai sudah 

sampai di sini

berdiri 

melabuhkan asmara




menikah denganku

menempatkan cinta

melintasi 

perjalanan usia

menikah denganmu

menetapkan jiwa

bertahtakan 

kesetiaan  cinta

selamanya





note: pengin cuap-cuap dari lagu ini, tapi mau bobok dulu *hiyaa*. tunggu yaa nanti


21 Juni 2014

=========================================================================


 


Helloooo, akhirnya kembali lagi cuap-cuap setelah bangun dari bobok panjaaang *dari tanggal 21 ampe tanggal 26 yaa mbak-nya bobook* *yaampuunlah yaa* Oke, oke, kembali ke secarik lagu yang sudah terpampang di atas sana, iya ,iya, kalo kamu anak 90-an dan demen dengerin lagu cinta-cintaan mesti tahu deh itu lagu siapa. Naah, akhir-akhir ini lagi suka dengerin lagu Kahitna yang satu ini. Bukan, bukan karena currently saya akan menikah *walo yaah you know kan ini udah Piala Dunia 2014* ya teruuuus*. Yaaa jadi gini........... *sstdsdf!#$%^&*iklan*kasak-kusuk*



Sebenarnya lagu ini mengingatkan saya akan seseorang. Seseorang yang sering banget ngegodain saya, yang berisik dan bawel banget ampun-ampunan, yang kadang nyebelin tapi akhir-akhir ini jadi ngangenin (kangen kerusuhan dan keonarannya). Nah, doi *udah yaa gapapa lu jadi doi* tuh suka banget dengerin lagu ini. At that time, saya suka mikir nih cowok apeuu banget demennya dengerin lagu macam begini. Nih orang desperately pengin nikah apa pegimana coba, sepanjang hari bisa ngelantunin lagu ini. Ya mending suaranya okeh dan keceh kayak bang Bubleh. Saya pun lupa kapan persisnya doi suka dengerin lagu ini, juga sampe sekarang saya gak tau apa pasalnya doi suka banget sama nih lagu (apa karena ada sesuatu, seseorang, apa karena lagunya bagus, atau apa karena doi lagi ngebet nikah), dan tak disangka tak dinyanya, sekarang jadi saya yang suka dengerin lagu ini *yaa paling biasanya kalo lagi demen-demennya dengerin lagu paling ampe seminggu lah lagu ini diputer-puter terus. selanjutnya sih balik lagi ke playlist lama*. Kalo ditanya kenapa lagi demen sama nih lagu, maka saya telah menjawabnya di awal paragraf ini: saya teringat akan doi yang demen lagu ini dan saya bully (walau saya nge-bully-nya di pikiran saya saja). Lagunya juga bagus, suka sama lantunan musiknya yang ada nuansa gamelan dan Jawanya, liriknya juga sederhana tapi bikin pipi merona. Dan saya akui, lagu ini bikin jadi makin mupeng pengin segera nikah terus pas di acara nikahannya ada yang nyanyiin lagu ini *heeeeh kecil amet perkare*. Tapi, lagi-lagi, seperti yang sudah saya katakan, saya mendengarkan lagu ini bukan karena saya akan menikah, walau pastinya ingin menikah, tapi sekarang lagi masanya memperbaiki diri dan mempersiapkan diri, yah bisa dengan nyiap-nyiapin lagu yang cocok buat nikahan nanti *ya teteeeeeep* ;))





Note: saat kakak saya menikah, doi masa nyanyi buat istrinya, lagu Kahitna juga yang "Janji Suci". apeuu banget emang, kan! 


Additional note: kemudian yang-tadinya-dikangenin-tapi-udah-kaga-seberapa-kangen-lagi itu posting foto anake ke ane...


26 Juni 2014
1:23


Minggu, 20 April 2014

Mabuk Zombie

Tidak banyak aplikasi game yang ada di komputer rumah. Selain memang tidak ada lagi gamer sejati yang bersemayam di rumah, beban yang ditanggung komputer rumah pun sudah sangat berat. Jadi memang lebih baik untuk tidak menyimpan banyak game.

Satu-satunya game yang sering dimainkan adalah Plants vs. Zombies. Tak hanya saya yang suka memainkannya, hampir semua anggota keluarga saya pun suka main game ini. Pernah kita memainkannya secara estafet, bergantian bermain sambil menunggu buka puasa. Karena sering memainkannya, sampai-sampai keponakan saya yang masih balita dan batita ikutan suka game ini.


Seperti pagi tadi, keponakan saya yang tengah menginap di rumah begitu bangun tidur dan minta minum air putih, lantas begitu nyawanya terkumpul ia berseru, "tanteee, mau main game!". Saya pun bertanya padanya, walau hampir dapat dipastikan saya tahu jawabannya. "Game apa, kak?"
"Tanem-tanem." Ia menyebut Plants vs. Zombies dengan tanem-tanem. Saya yang menamainya jadi tanem-tanem, agar mudah menyebutnya. Toh di dalam game ini juga ada aktivitas tanam-menanam.


Sebenarnya saya merasa bersalah telah membuat ponakan saya yang masih bocah itu jadi gandrung dengan game ini. Pada tau kan gimana gak jelasnya tokoh-tokoh zombie itu: ada yang pakai ember besi di kepala, ada yang bawa-bawa galah, pintu, juga tangga. Saya tak bisa membayangkan apa yang ada di pikiran ponakan saya. Belum lagi saat zombie-nya tumbang setelah mendapat serangan dari tanaman, ponakan saya suka berkomentar, "waw, itu kepalanya putus." Mengerikan memang, bagi saya. Kadang saya menjawabnya, "iya itu badannya pretel. Tapi ini cuma mainan ya."

Saya pun mulai mengalihkan game ini dengan memilah-milah permainan di dalamnya yang tidak memperlihatkan anggota badan yang pretel. Pilihan saya jatuh pada zombieqarium. Di situ zombie akan berada di dalam akuarium dan misinya adalah mengumpulkan uang seribu berupa matahari yang berasal dari zombie-zombie yang bertahan di akuarium. Walau susah mengalihkan keinginan ponakan untuk memilih game ini saja, tapi lama kelamaan jadi tertarik juga. Seperti pagi tadi, ponakan saya memilih zombiequarium untuk dimainkan.

"Tante, kalo kakak yang maen mah beli zombie banyak-banyak." Ia mulai berkomentar.
"Yah kak, gak perlu banyak-banyak zombienya. Malah keluar duit lagi buat kasih makan zombie. Yang penting kan ngumpulin uang seribu." Entah kenapa hari ini saya menjawab dengan serius pertanyaannya.
"Iya ya. Kalo gak dikasih makan nanti zombienya mati. Kasian dia." Begitu komentarnya.


Namun kemudian saya berpikir : sepertinya seru juga mengumpulkan banyak  zombie, membuat penuh isi akuarium. Maka, saat saya sudah hampir mengumpulkan uang seribu, saya malah membeli zombie. Terus menerus begitu. Dengan banyaknya zombie, tentu saja menambah pundi-pundi uang. Tak butuh waktu lama untuk mengumpulkan seribu, bahkan bisa mencapai dua kali lipat dengan cepat. Dan hebatnya lagi, zombie-zombienya tidak ada yang mati, semua mendapatkan makanan yang cukup.

Keadaan tersebut membuat saya menggebu-gebu untuk menambah zombie lagi. Saya pun berulangkali mengklik pembelian zombie, juga lebih banyak mengklik untuk memberikan makanan. "Twiwiwiit" satu zombie berubah jadi hijau, mengambang, lalu hilang. Pertanda zombie menemui ajal. Saya pun segera menggantinya dengan membeli tiga zombie lagi. Uang saya sangat banyak. Lalu kemudian, dua-tiga-empat zombie mati. Kecepatan saya mengklik makanan tidak sebanding lagi dengan banyaknya zombie yang menyesaki akuarium.

"Yah tante, zombienya banyak yang mati." Ponakan kembali menghampiri setelah tadi beranjak ke ruang depan. Ia tidak melihat tantenya yang tadi bermain dengan ambisi memenuhi akuarium dengan zombie, namun akhirnya kewalahan sendiri.
"Iya nih kak." Saya melihat uang yang saya kumpulkan. Nyaris mencapai empat ribu. Bukankah untuk menyelesaikan game ini hanya perlu seribu? Okay, enough is enough. Saya memakai uang seribu untuk membeli piala, pertanda game selesai. Dan harusnya hanya butuh mencapai seribu saja, tak perlu ada zombie yang mati.



20 april 2014
23:59

Selasa, 01 April 2014

Who You Love


You love, who you love
Who you love
You love, who you love
Who you love

My girl, she ain't the one that I saw coming
And sometimes I don't know which way to go
And I tried to run before
But I'm not running anymore
Cause I've fought against it hard enough to know

That you love, who you love
Who you love
You love, who you love
Who you love
You love, who you love
Who you love

Oh, you can't make yourself stop dreaming
Who you're dreaming of
If it's who you love
Then it's who you love

My boy, he ain't the one that I saw coming
And some have said his heart's too hot to hold
And it takes a little time
But you should see him when he shines
Cause you never wanna let that feeling go

When you love, who you love
Who you love
You love, who you love
Who you love
Yeah, you love, who you love
Who you love

Oh, you can't make yourself stop dreaming
Who you're dreaming of
If it's who you love
Then it's who you love

Oh, you love, who you love
Who you love
You love, who you love
Who you love
You love, who you love
Who you love

Oh, you can't make yourself stop dreaming
Who you're dreaming of
If it's who you love
Then it's who you love

It's who you love
Who you love
Who you love
Who you love
You're the one I love

*John Mayer feat Katy Perry - Who You Love*



Note: ampun-ampun... sama John Mayer-nya aja, gak buat Katy Perry-nya :p

 

Sample text

Sample Text