Social Icons

Pages

Rabu, 30 September 2015

Bandar Lampung dan Kerinduan

Sore yang hibuk--ramai lalu lalang kendaraan dengan suara klakson yang tak ragu menyalak di jalan raya, sementara saya duduk dalam bus trans yang membawa saya berpindah ke tempat mengajar berikutnya. Saya tengah memikirkan apa yang lain dari kota tempat saya tinggal, dari saya belum tahu apa-apa sampai kini dewasa.


Kota ini mungkin sama dengan kota-kota yang tengah berkembang lainnya. Pembangunan di sana-sini, jalan menjadi hiruk pikuk dan kerap macet yang kadang membuat umpatan terlontar dari dalam kendaraan. Kalau sudah begini, jujur saja saya rindu kota saya kala jalanan tak begitu ramai dan tak terlalu banyak gedung-gedung atau pusat perbelanjaan yang membuat ramai dan sesak. Namun seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, kota ini juga harus mengalami perubahan.


Apa yang lain dengan kota saya ini? Saya membayangkan jika saya harus meninggalkan kota ini, maka apa saja yang akan saya rindukan dan tidak saya temukan di kota lain? Jujur saja saya merasa bersemangat memikirkan kalau saya meninggalkan kota ini, karena saya pikir saya yang sejak lahir sampai sekarang masih setia tinggal di kota yang sama, saya merasakan kejenuhan dan membuat saya jadi bergairah untuk meninggalkan kota ini. 


Bagaimana jika saya meninggalkan kota ini 1 bulan? 1 tahun? 3 tahun? 5 tahun? Oh, saya seperti mengenali perasaan yang berkecamuk jika saya pergi dari kota ini. Saya akan rindu melihat jalan dengan toko-toko yang dipasangi lambang siger di depannya. Di mana lagi bisa saya temukan pemandangan seperti itu? Saya akan merindukan logat berbicara lampung dengan akhiran "geh" atau kata ganti "lorang, kitaorang, diaorang" :D. Saya akan rindu refreshing ke pantai dengan hanya melakukan perjalanan selama setengah jam, dan saya bisa menemukan pantai yang indah dan bersih, terawat kecantikannya. Saya juga akan rindu masakan sumatera yang cenderung asin dan pedas, juga akan kangen nyeruit. Siapa nanti yang mau mengajak saya nyeruit jika berada di kota antah-berantah sana? Saya rindu bisa pergi ke sana-sini naik angkot tanpa khawatir kesasar karena saya paham betul rutenya. Dan yang terpaling lagi, di kota ini tempat saya merasakan pulang, tempat di mana orang-orang yang saya sayang berkumpul-- keluarga dan sahabat.


30 September 2015

18:36

0 komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text