Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label #randommemory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #randommemory. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 November 2013

One Fine Day (not-in-Leiden-but) in Setu

One fine day in Setu-- slept with the bride in the same bedroom, but different bed...


Sebenarnya ini bukan kali pertama saya tidur menemani mempelai wanita sebelum hari pernikahannya. Saat masih kecil saya dan adik saya sering sekali diminta menemani tante menjelang pernikahannya di esok harinya. Menjadi lucu karena pernah kami menemani untuk tidur di hotel, sementara rumah kami saja jaraknya dekat dengan hotel itu. 'Gegayaan' kalau kata kakak-kakak saya atau om saya saat itu, "rumah deket aja pake acara nginep di hotel". Mungkin mereka sirik akan kesempatan yang didapat oleh saya dan adik saya saat itu. Atau juga saat menemani seorang sahabat yang akan menjalani kehidupan baru sebagai seorang istri. Maka sebelum esok mengikat janji, saya dan sahabat lainnya akan berkumpul di rumah mempelai wanita : mengobrol, membuat rusuh, banyak makan, ngobrol, istirahat tidur, namun bukannya tidur malah lantas ngobrol lagi... begitulah. (oh ya, juga tak lupa menggoda-goda mempelai wanita). Banyak sekali cerita yang didapat dari menemani mempelai wanita ini, dan ada satu cerita yang ingin saya bagi di sini.

Mungkin cerita ini adalah cerita yang biasa-biasa saja. Tapi bolehlah ya saya cerita, sekaligus mencoba mengetes sejauh mana daya ingat saya merekam peristiwa (lagian ini blog siapa? blog siapa hayoo siapa? :)). Kejadiannya terjadi kurang lebih dua tahun lalu, di mana saya terlempar ke suatu momen terpenting bagi seorang wanita cantik menyenangkan asal Setu yang akan dipersunting oleh pria yang (tentunya) mngidam-idamkannya dan menjadi idaman hatinya. Lantas sebelum esok dua orang yang saling mengidam itu dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan, wanita cantik menyenangkan itu pun harus melewati malam terlebih dahulu dan berbagi kamar dengan seorang perempuan kecil yang berhati besar. Tak banyak yang dilakukan untuk menghabiskan malam. Sekadar untuk mengingat, sore hari saat sang perempuan bertemu dengan wanita itu setelah sang perempuan ikut berburu empat boneka sapi (tak tahulah untuk apa saat itu) dan sang wanita baru pulang dari salon dan pusat perbelanjaan, menenteng-nenteng kipas hasil belanjanya dengan tangan yang kuku-kukunya sudah berhias kuteks. Kalau boleh menyampaikan, sebenarnya saat itu sang perempuan heran melihat sang wanita yang besoknya akan menjadi pengantin ini malah sibuk keluar-keluar, tak ada pingitan. Oh ya, saat itu juga merupakan kali pertama untuk sang perempuan mengenal sang wanita secara langsung, lantas bagaimana kesannya? Rasanya tak bisa dijabarkan di sini karena takut jatuhnya korban menjadi-jadi (korban apa? jadi apa? ya gitu deh yaa biar drama aja). Tapi hey, bolehlah bayangkan kapan kejadian ini terjadi, kapan coba.... dan ternyata, saya masih bisa mengingatnya. Berkesan, pastinya.

Saat malam tiba, setelah mengobrol sebentar, akhirnya sang perempuan dan sang wanita itu masuk kamar juga. Sang perempuan yang sudah lelah karena sebelumnya menempuh perjalanan jauh dan khawatir kesiangan bangun saat esok harinya, cepat sekali tertidur setelah sebelumnya sang wanita sibuk mengusung kipas angin dan juga kemudian terlibat dalam pembicaraan telepon dengan bahasa yang tidak dimengerti sang perempuan. Lantas, berangkatlah sang perempuan ke alam tidur tanpa mimpi apapun, namun hari itu menjadi salah satu hari terbaiknya dalam tidur dan bangun: karena ia (entah bagaimana caranya) berhasil tidak membuat pulau-pulau di bantal atau kasur dan berhasil bangun cukup pagi, sekitar pukul empat subuh dan rumah di Setu sudah gaduh! :D Adalah sang wanita yang akan dipersunting itu yang sudah bangun bahkan dari dini hari. (Si perempuan sempat 'ngelilir' saat sang wanita bangun dan turun ke ruang bawah, sementara si perempuan masih ingin tertidur seribu tahun lagi). Lantas saat fajar mulai menyapa walau belum terlihat sinarnya, si perempuan bangun dan mendapati sang wanita tengah sibuk memakai ........ rrrr, tak usahlah disebutkan di sini, yaa :D, yang jelas ia sibuk mencoba berbagai perlengkapan tempur untuk menjadi ratu dalam sehari, ratu dari Setu. Dan ketika subuh datang bersamaan dengan datangnya perias pengantin, maka sempurnalah sudah jalan sang wanita untuk menjadi ratu Setu, dan tentu menyusul sang rajanya yang datang saat sang wanita tengah didandan dan disasak rambutnya :D.


Begitulah kisah pada suatu waktu di Setu. Biasa saja ya? (Kan tadi sudah diperingatin sebelumnya kalau biasa-biasa ajaa). Namun yang jelas, hari itu menjadi hari yang tidak biasa untuk dua orang yang saling cinta mengikat janji pernikahan :  untuk saling mencinta, saling berbagi, saling berdampingan, dan saling-saling yang menyenangkan lainnya. Kala itu akad nikah berjalan lancar, begitupun resepsi pernikahannya: lancar dan menyenangkan karena banyak makanan :D. Oh ya, di acara resepsi pernikahannya juga ada pelemparan boneka (lantas kemudian tahu apa guna mencari-cari boneka-sapi-tapi-tidak-dapat-maafkan-jadinya-boneka-beruang. jadii, bonekanya buat dilempar-lempar, gitu?) dan dari pelemparan boneka itu yang mendapatkan diganjar hadiah tertentu. Setelah acara resepsi, si perempuan menghabiskan sore bersama dan terlibat dalam obrolan ringan yang menyenangkan, juga terselip canda tawa. Begitulah hari yang menyenangkan itu, yang terjadi dua tahun lalu, dan demi mengingatnya, saya pun ikut terbawa kesenangannya, juga rindu. Tak mengertilah mengapa bisa rindu dengan seseorang yang baru sekali ditemui  (mungkin karena sang wanita pribadi yang seru (pakai tanda seru!) pun sang prianya. Kalau baby-nya gimana yaa?). Padahal mungkin, bisa jadi  malah bingung sendiri saat punya kesempatan untuk bertemu.

Dan whuuuuus... tibalah kini di penghujung cerita. Maka, jika kini sang wanita  punya One Fine Day in Leiden yang siap beredar di toko buku kesayangan, maka sang perempuan punya One Fine Day in Setu yang siap publish di blognya :D. Salam.


*Ditulis untuk (turut) merayakan ulang tahun pernikahan sang wanita dan sang pria yang dipenuhi cinta :D*



20 November 2013
23:57 WIB

Senin, 07 Oktober 2013

Yogyakarta and Its Charms


I'm not kinda traveller who wandering many places in this universe. When I'm counting how many towns I've visited until now , my fingers could still count, only using my right hand, with the tumb left, means I only get four towns already visited: Palembang, Jakarta, Semarang, and Yogyakarta. If you ask me in wich town I spent shortest, that's Yogya. I only spent one day- one night there. And if you ask me, from those four towns which town I like the most, I'd like to say Yogyakarta. This town does impress me , even I only had one day there, and I had no one as the reason to go there, I just enjoyed my journey.

You may say it's too early to love Yogya since I only visited this town once and not for too-long, just one day. Places I visited in Yogya were only Malioboro and Prambanan Temple. But how could I be in love with this town and make me want to visit again? Maybe it could be called as love at the first arrival. Actually I had not-so-good trip when going to Yogya, I threw up in the bus, maybe because I was so tired and not in a good condition, or maybe because I'm too nerveous to have a walk in Yogya. Then, when I arrived in Yogya,suddenly I felt fresh, not dizzy as I usually feel after throwing up. There must be something in Yogya coz never I felt powerful and cheerful as I stepping my walk in Yogya.

Yogyakarta, you may agree if I say Yogyakarta is a beautiful town, with beautiful-hearted people -- kind and humble. People living in Yogya also vary from different tribes and culture, but they could blend together. They also have great interest in art which they concern to do, no wonder so many artist come from Yogya, whether bands, singers, writers, etc. When I wandering at Malioboro in the evening, I saw many paper-projects (shaped like a statue -- animals, doll, globe). At that time there's an event (I forgot the name of that event). From that case, I could see how Yogya be a place where many artist can explore their talent, and they grow fast and better and produce such a nice art that others could enjoy.

I couldn't deny that I was so tired since I only had one day in Yogya, but I wanted to get something here. And when the night came and time to take a rest, I got something. Yeah, I got "something" in my dream when I slept in a small hotel near Malioboro mall. "Keep your promise!" A person wearing red t-shirt shouted and got his car out. Hearing his shout, I did wanted to throw anything-that-I-could-throw, but I found nothing. "How could you say like that? That's you who have promises, isn't it?" My mind was busy thinking while that person approached me and smiled at me. Then, that person took me a ride and we're wandering together, and my mind couldn't stop questioning, "How could it be? How could it be?"

Yup, what I just wrote above was only a dream. I wondered why I should have such kinda dream which feel so real. I was in different town with that person, but why I dream of that person? Then I remember, that person even told me that he ever went to Yogya, as a place he ran away if I'm not mistaken. So, how could even Yogya conspire remembering me to the red t-shirt person?

Yogya and its charm, with  the dream I dream in Yogya -- I couldn't forget what things happened in Yogya. And I do miss Yogya and wish to come back soon, because I left "something" there, on the pillow and the bed that led me to my dream, that involved him. Why should involve that dream and that person? Hey, it's already midnight. Stop questioning and go to bed.

Note: actually this post presented to Yogyakarta's Birthday on 7 October. But it's okay, not too late to say: "Happy 257th birthday, dear Yogya. See you very soon."




October 8th, 2013
02:50 a.m.

Minggu, 29 September 2013

Recalling.... love?

I do enjoy reading Fira & Hafez, kinda memoir of Fira's love journey with her late husband, Hafez. Even when reading this book I have to hold my tears, I keep it up and I love the way Fira writes the memoir -- like an old friend telling you her deepest feeling, it's personal but you can enjoy it and get lesson from it -- about love and loyalty, about how to be strong and stay positive and keep doing good things no matter how bitter your life *in your perspective*. I read it paragraph to paragraph, page to page, slowly, until I found those "familiar words" (which i ever used to say -- i have a partner when saying it, not myself at that time:p) and suddenly I stop reading. How could I found those words on this book? Okay, I know those words maybe familiar, but still when reading it, I feel I have connection to the writer *oops who do you think you are :)*. Yeah,  I feel that way, but the most important yet disturbing point is suddenly I feel the butterfly effect. Have you ever found a writer who describes when you are in love you feel butterfly on your tummy? I never feel butterfly on my tummy even when I'm in love, but I do feel butterfly in my chest! No kidding, coz I feel that way! In emptiness of my heart, I'm attacked by butterfly effect, and this butterfly effect won't go away when I found those familiar words that I (and you) used to spell *take a deep breath* :

I love you | I love you more | I love you the most


The butterfly effect won't go away. 
The funny feeling won't go away.
The memory that you used to ignore, stays.




 up up above the sky, I'm wandering where love does exist?

you and I has been written down on the lantern that later flying on the sky 

so many lanterns on the sky--but don't worry,what's yours will be yours.Let's find which one's yours



*pictures taken from pinterest*


September 30th, 2013
00:30 a.m.

Selasa, 30 April 2013

When You Say Nothing At All


It's amazing
How you can speak right to my heart
Without saying a word,
You can light up the dark
Try as I may
I could never explain
What I hear when you don't say a thing

The smile on your face
Lets me know that you need me
There's a truth in your eyes
Saying you'll never leave me
The touch of your hand says
You'll catch me
Whenever I fall
You say it best
When you say
Nothing at all

All day long
I can hear people
Talking out loud
But when you hold me near
You drown out the crowd
(The crowd)
Try as they may
They could never define
What's been said
Between your heart and mine

(You say it best when you say nothing at all
You say it best when you say nothing at all)

The smile on your face
The truth in your eyes
The touch of your hand
Let's me know
That you need me

(You say it best when you say nothing at all
You say it best when you say nothing at all)

The smile on your face
The truth in your eyes
The touch of your hand
Let's me know that you need me

(You say it best when you say nothing at all
You say it best when you say nothing at all)





Note : udah suka dengerin lagu ini pas jaman esde, waktu ituh in banget di tipi, dan Mtv sering banget muter lagunya, jadilah familiar sama nih lagu. Biar kata jaman dulu gak tau artinya, tapi gak tau kenapa tetep suka bin nempel di memori. Ternyata oh ternyata.... lagunya emang okeh! Salah satu lagu ter-romanciis menurut sayah.. Dan belakangan ini, baru ngeh kalo ini lagu juga masuk di film Notting Hill (eyalaah kemana aja mbaknyaaa baru tahu tempee) gegara kemarenan minjem VCD Notting Hill di rentalan, dan saya hiks...hiiks... malu deeh bilangnya... yah, pokoknya pas bagian lagunya terputar serasa berkunang-kunang (karena belum makan kaliii) Iya, a memory remains in this song. Jadi pas lagi nonton dan gak nyangka bakal ada lagu ini, jadi berasa de ja vu.. jadi berasa this song haunted me.. hohoohhoho padahal udah lamaa banget yak.... Yak, tapi teteep, dan gak bakal saya coret nih lagu dari my most romantic love song list! :D


Wed, 1 May 2013
00:25 am

Minggu, 28 April 2013

nostalgia on my mind

Siswa-siswi SLTP Negeri satu
Seirama langkah menuntut ilmu
Lebih giat dalam belajar
Jauhkan diri hal yang tak berguna
Siswa-siswi SLTP Negeri satu
Takkan pernah mengenal putus asa
Gapai cita seiring doa
Berdiri tegak bersama
Ayo kawan jangan lupa
Senantiasa berusaha
Membina pribadi, menjadi landasan utama
Sukses di kemudian hari
Baktikan pada ibu pertiwi .....


 Tanpa googling, tanpa liat catetan, woow...ternyata saya masih apal Mars SLTPN 1 Bandar Lampung, tempat saya mengenyam ilmu, belajar banyak hal selama tiga tahun bersekolah di sana (mmm..mungkin ini apal lagunya ampe sekarang gegara tempaan guru seni saya yang strict bin "killer" -- Pak Ichsun). Dan di hari Minggu, 28 April 2013 yang cerah di awal tapi lantas diguyur hujan di siang dan sore hari dan di malam harinya oke-oke ajaa, hari ini saya bersua lagi dengan sekolah saya setelah hhm.... 10 tahun lamanya (what a time trick! Gak berasa banget udah 10 tahun berlalu). Seinget saya setelah saya lulus tahun 2003, saya belum pernah berkunjung ke sekolah saya ini lagi, yaa paling lewat doang, atau mampir makan mi ayam pakde. Dan ternyata oh ternyata... perkembangan sekolah saya pesat gilaaa! Hampir semua gedung udah direnovasi, cuma bagian belakang dan beberapa bangunan aja yang bangunan lama, selebihnya... voilaa, bangunan-bangunan baru yang tak saya kenali menjulang berdiri. Tapi tetap, ini merupakan sekolah saya tercinta.

Kembali menginjakkan kaki ke sekolah ini, membuat saya jadi mengingat masa-masa SMP -- masa peralihan dari anak-anak ke remaja, dilema anak remaja yang pengen keliatan dewasa tapi padahal baru juga lewat masa anak-anak.. duuuh, lucuu deh ngingetnya :D. Banyak cerita di masa SMP , dan mengingat tingkah polah saya jaman duluu -- yang suka berisik dan nyerocos kalo udah ketemu "geng"-nya, yang galak bin sinis sama cowok-cowok yang gak bisa diajak kerja dalam tim :D (sampe masih ada yang inget duluu banget pernah kena saya semprot, etapi saya aja lupa pernah nyemprot orang hohoo) , yang cuek bebek ngelakuin apa aja yang dianggepnya bener selama gak ganggu orang :D, yang punya banyak temen dari dua golongan (golongan pinter & golongan centil), yang mulai flirting"an (oh myyy..... *blushing*), yang getol ikut organisasi biar sering dapet dispen (ikutan PMR & tentunya sering ikut lomba, walo cuma jadi pasien, tapi tak apa yang penting dapet surat dispen :D), dan segudang yang-yang lainnya...yang kalo saya terusin nulisnya bakal ampuun saya gak berenti senyam-senyum. Pokoknya masa-masa SMP itu sangat amat berkesan secara mendalam buat saya ;))

Naah, dari tadi nyerocos aja...sekarang melipir dulu kasih space buat hasil bidikan saya sembari nostalgia dalam memori otak. Ini dia foto-fotonya....


Old building featuring new building


Bangunan lantai bawah (paling kiri) itu dulu kelas saya -- 3H

Sehabis hujan , kembali cerah berawan

undakan baruu... dulunya undakannya dari papan kayu :)

 Kembali hujan...

 Old building #2nd floor..kalo gak salah jaman tahun 2003, ini untuk kelas unggulan 3B & 3C

 New building #2ndfloor di sisi kiri

 Kembali menapaki kaki di sekolah tercinta, walau kali ini tanpa berseragam putih biru :D



Kamis, 25 April 2013

Dunia Sophie & Detektif Conan

Dalam perjalanan pulang, sering pikiranku melayang: pada suatu waktu, di saat ku termangu pilu, merasa sedih hanya milikku. Berbagi hanya dalam kecamuk pikiran saja, hanya aku dan memoriku yang lekat, rasanya jauuh tapi tetap di tempat, rasanya pedih memeluk erat.

Hingga sampai di suatu masa, rasaku kembali biasa. Masih dalam perjalanan pulang, rute yang sama, tujuan yang sama, hanya berbeda caraku merasa. Sekalipun memori yang terputar seenaknya menjejaliku akan masa itu -- masa-masa pilu. Tapi tak lantas membuat ku biru. Malah pertanyaan menyerbu : "apa yang membuatku sebegitu pilu?" :') Dan anehnya, saat mengingatnya, aku malah tertawa. Tertawa mengingat pastinyaa, saat masa-masa sendu aku pasti berantakan, juga jelek karena suka tiba-tiba mewek :D
Lucu ya, apa yang membuatmu sedih di masa lalu malah bisa jadi pemicu tawamu di masa kini. Ya, it's a matter of time i guess and how you control your feelings. Kini, aku kembali baik-baik saja.

 Tapi tunggu, sampai dalam perjalanan pulang, aku berkunjung ke toko buku dulu, kunjungan kali ini tanpa pretensi, hanya berputar-putar, melihat-lihat, juga karena aku rindu bau pengharum di toko buku itu, bagaimanalah cara mengobati rindu akan bau, tentu dengan mendatangi sumber bau  :) *tapi bener gak tau deh kenapa kangen baunya toko buku :D*  Sampai akhirnya saya menemukan satu buku, yang sering digaung-gaungkan, dicari-cari dimana rimbanya, tanpa pernah ku tau bagaimana wujudnya (dibaca: sampulnya), yang melekat hanya judul bukunya : "Dunia Sophie". Ku rengkuh buku itu , seperti bertemu dengan seseorang yang aku tahu dari seseorang yang lainnya, dan kini aku bertemu -- sampul yang menarik, yang juga menarik memoriku untuk ber-flashback ria : "Coba deh baca buku filsafat. Coba Dunia Sophie aja dulu deh!"| Well well well, i've tried to read kinda books, but dunno, what i got is im getting sleepy actually. But later i tryy.... *ampe sekarang belom kesampean*hohoo

Where's your control in the name of your own feeling? Dan gara-gara melihat sebuah buku, aku kembali sesak -- sesak yang tanpa terisak. But it's even worse coz i have no medium to express what's going on my mind! Lalu berjalan aku menjauhi tempat tertumpuknya buku itu, beralih ke pojokan tempat Conan-ku berjajar. Lama ku terdiam di sana, mencoba menetralisir rasa. Berdiri di depan jajaran sampul Conan-ku, adakah yang mengingat apa yang jadi kesukaan-ku? Bukankah pernah ku berujar : "aku suka Conan." Adakah yang ingat sebagaimana aku mengingat Dunia Sophie, yang tak pernah ku baca, tak pernah ku cari tahu seperti apa wujudnya, tapi bisa-bisanya melekat dalam ingatan.

Masih. Aku. adalah. Aku. Jangan libatkan yang lain untuk bisa merasa sepertimu.

Dalam perjalanan pulang, dengan berjuta perasaan tak menentu-- dominasi biru menyerbu. Kini, yang ku perlukan adalah waktu, untuk kembali berdamai dengan memoriku. Dan tunggu, tawa akanku!







                

               &









25 April 2013
..................

Rabu, 17 April 2013

the Dawn and the Twilight

Everybody's changing...

For not interacting with you, it's much more possible to face the change.
For not walking with you on the same track, it's undeniable there's a change.
For not sharing with you, it's probably because you and I are changing.
For not laughing, fighting, and spending time with you, even I do want to, It might be because everybody's changing.
For deciding to have own way, even I don't want to, it's because I want to feel a change.


And when the time comes, you and I will meet in the dawn, facing every change. And I believe, the change brings you & me into a good way, to be better person.

Or if in time you and I never have a chance to meet in the twilight, it's glad to know that you and I grow better, Because everybody must change for the goodness.















*in the name of the beauty of the dawn and the twilight*


17 April 2013
11:43 pm



 photo courtesy :  sunrise (i miss the link, just google it)
                            sunset adventurestockphotos.com
                        
 

Sample text

Sample Text