Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label #cuapcuaps. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #cuapcuaps. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Januari 2016

Lajang Tangguh

Sudah terlalu lama sendiri~
sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri~

Hello 2016 from the outside~! Outside manah, neng, outside planet? Hadeeeh, seperti biasa memulai ngeblog dengan banyak cincong yang itu-itu saja : maapkeuun kalau jaraang banget ngeblog lagiih. Yak, bisa dicek terakhir posting di September 2015. Itu juga karena ikutan proyek nulis dari twitter. Hahahaaa. Terlalu banyak excuses yang nggak banget buat dibeberin kenapa gak ngeblog yang ujung-ujungnya gak lain gak bukan bermuara pada satu hal : malas :DDD. Jadih, di awal tahun ini dalam upaya pencitraan biar si naturally pemalas ini gak keliatan males, mari kembali mengisi blog pribadi, membahas hal-hal yang dialami, dirasakan, atau diamati. Untuk postingan pertama di tahun ini, saya memilih membahas apa yang saya alami dan amati, yaitu perihal being single, ayeeey! :D

Sebagai wanita single berusia 17++10 yang tinggal di tanah tumpah darah tercinta dan harus menjalani hidup di tengah derasnya arus orang-orang sekitar yang memasuki masa peralihan dari single ke double, I mean even from single bed to double bed, dari yang tadinya hidupnya cuma mikirin diri sendiri (plus dirinya di keluarga, dirinya di kerjaan, dirinya di kehidupan pribadi, sosial, cyber dll), sekarang beralih jadi punya pasangan, kawan, atau lawan yang perlu dipikirkan demi keberlangsungan hidup bersama. Dan di tengah arus peralihan itu, saya masih tetap di tempat : setia jadi pengamat. Dan mengenai saya yang single tulen inih, memperhatikan apa yang terjadi dengan teman-teman tersayang yang dalam masa peralihan, saya cuma bisa nyengir menanggapi keluh kesah mereka untuk menyesuaikan diri di berbagai hal, sementara saya tak perlu repot-repot seperti mereka. Gak cuma berbagi keluh kesah, tentunya ada banyak sisi menyenangkan dari masa peralihan ini, seperti jadi ada yang peduli sama apa yang kita lakuin, ada yang merhatiin, ada tempat untuk saling berbagi dan mengisi, dan saya turut merasa senang jika masa peralihan itu berjalan baik adanya. Kalau yang sedang dalam masa peralihan ada gelombang perasaan dan segenap usaha penyesuaian yang berkecamuk di dalamnya, gimana dengan kehidupan para single yang kesannya jadi adem ayem karena gak punya kerepotan layaknya si double? Mari beri panggung untuk sisi para singles, yang seperti juga pernah dirasakan oleh jutaan umat di alam semesta ini.

Buat saya, mau apapun itu jadi single karena pilihannya, atau keadaan yang mana belum ketemu aja, atau belum berpihaknya pasar pada pribadi ini,  cuma ada dua jenis single di planet ini : single yang gak nyaman, dan single yang (mau gak mau) menyamankan dirinya sendiri. Buat single tipikal pertama, bisa dilihat dari mereka yang selalu sibuk mengupayakan berbagai cara untuk mengakhiri masa single­-nya. Anehnya, kebanyakan orang tuh jadi gak nyaman hanya karena takut dilihat sebagai seorang “single fighter”, yang ke mana-mana seringnya keliatan sendiri. Kayak apa yang dibilang Indra di bukunya Kicau Kacau, “bagaimana jika ternyata ketakutan terbesar kita untuk menikmati kesendirian adalah kemungkinan timbunya kesadaran bahwa diri kita adalah makhluk asing yang baru bisa menyenangkan ketika dilengkapi dengan kehadiran orang lain?” Kerap kali orang-orang takut untuk terlihat sendiri, sehingga memicunya untuk mencari pasangan. Kalau udah begitu, motif untuk punya pasangan jadinya agak bergeser ya: agar bisa dapat pengakuan, “ini nih, gue juga bisa dapetin pasangan.” Yah, sebenernya mau apapun motif, arah dan tujuan, mau orang tersebut single atau taken itu kembali ke pilihan masing-masing. Begitu juga untuk saat menjadi single, mau yang heboh gak tahanan untuk menyudahi kesendirian, atau mau yang stay cool menikmati fase sendirinya, atau yang oportunis : kalem-kalem macan begitu ada sinyal untuk meraih gebetan, semua balik ke pribadi masing-masing. Dan untuk menjadi single tipikal kedua; single yang menyamankan dirinya sendiri, tentunya hal ini memerlukan upaya yang lebih. Karena hey, menjadi sendiri di antara sekian banyak orang yang memutuskan untuk berpasangan (terutama yang udah jadi pasangan syah secara agama dan negara) itu perlu memiliki kelapangan hati untuk tidak iri atas kebahagiaan orang lain (hahaahey). Dan saat menjadi single, harusnya fase kesendirian ini dimanfaatkan untuk semakin mengenali diri sendiri, untuk bisa berdialog dengan diri sendiri, dealing with you yourself, dan yang paling penting, untuk bisa berbahagia dan mencintai diri sendiri,  yang mana merupakan esensi dari kebahagiaan itu sendiri.

Well, ngetik begitu soal berbahagia dan mencintai diri sendiri sih gampang, terus aplikasinya gimana? Naah, kalau saya sendiri yang lagi dalam tahapan untuk menikmati masa kesendirian (dan beneran ngerasa nyaman dan agak terlena di banyak hal), saya mencoba untuk kompromi dengan diri saya sendiri. Begini, sebagai seorang single, tentunya kita jadi punya kebebasan dan ruang gerak lebih (walau untuk yang udah taken juga sebenarnya punya kesempatan untuk mengekspresikan kebebasan). Kalau single tuh ngebuat kita jadi gak mikirin perasaan pasangan (yaa karena gak ada pasangan) saat mengambil keputusan, beda sama yang udah taken di mana seenggaknya kita perlu untuk cerita ke pasangan. But somehow buat para singles itu malah kangen untuk punya tempat untuk berbagi, tempat untuk nyampah kalau saya bilang, dan itulah momen yang tingkat ganggunya nyebelin kalau tiba-tiba bergejolak di hidup saya. Tapi, lagi-lagi karena memang fase ini yang harus saya jalani, jadi yah saya memilih untuk tetap cari cara untuk berbahagia, walau gak punya tempat nyampah, tapi akan ada blog buat sarana pengalihan nyampah :DD.


Sebenarnya ada banyak kebahagiaan yang bisa dirasakan saat menjadi single, begitu pun berlipat-lipat juga kebahagiaan yang bisa dirasakan oleh yang taken walau juga dengan problematika dan penyesuaiannya :D. Saat ini berhubung saya ada di kubu single, saya mau kasih reinforcement kalau apapun alasan, kisah dan kejadian di balik kesendirian kita, jadilah single yang tangguh ((jangan angkuh)), yang bisa memanfaatkan momen kesendirian dengan sebaik-baiknya, dengan lebih mengenali diri sendiri, lebih menggali diri sendiri, memaafkan dan menerima diri sendiri, dengan begitu membuat kita memantaskan diri dan bisa menatap kehidupan lebih cerah lagi. Walau kembali lagi teringat kata Murakami lewat tokoh Aku di Dengarlah Nyanyian Angin : “di mana pun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh.”Hear hear, jangankan single, manusia yang tangguh aja tuh sebenarnya gak ada, yang ada tuh pura-pura aja. Dan saya rasa saya bisa berkompromi ke diri saya sendiri untuk pura-pura tangguh :DD. Yuk deh, berbahagialah dengan diri sendiri dan jadilah lajang tangguh!

19 Januari 2016
10:55

Minggu, 27 September 2015

Alam Wawai


Setelah menjalani rutinitas yang menjemukan dan menghadapi minggu yang sibuk, ini saatnya untuk melepaskan lelah dan berekreasi bersama! Ada satu tempat di Bandar Lampung yang bisa dijadikan sebagai tempat rekreasi dan berkumpul bersama orang-orang terkasih, yaitu Alam Wawai. Kali ini Bandar Lampung punya tempat dengan mengusung nama tempatnya menggunakan bahasa Lampung – wawai yang artinya baik, juga bisa diartikan indah. Jadi, Alam Wawai diartikan sebagai alam yang indah. Alam Wawai merupakan taman yang ramah lingkungan, sesuai dengan branding-nya : eco friendly park.

Terletak di daerah dataran tinggi kawasan Sukadanaham, Tanjungkarang Barat, pemandangan yang sejuk dan menentramkan langsung terasa begitu memasuki Alam Wawai. Tanaman yang hijau tertata rapi, membuat suasana dan perasaan ikut sejuk dan tentram. Beralaskan rumput dan beratapkan langit, berada di Alam Wawai membuat kita merasa dekat dengan alam dan takjub akan keindahannya. Ada bangku-bangku dari kayu yang bisa jadi tempat untuk duduk-duduk menikmati pemandangan alam. Juga ada yang unik, yaitu tempat pembuangan sampah yang dibuat dari plastik dan bambu, di-design dengan cantik dan hampir di setiap pojok tempat disediakan tempat sampah agar pengunjung bisa tertib membuang sampah pada tempatnya. Di kejauhan kita juga bisa melihat pemandangan hijau kota Bandar Lampung di kawasan Sukadanaham yang masih asri. Juga ada pemandangan teluk Lampung yang dapat kita nikmati, berpadu dengan birunya langit.

Setelahnya kita bisa berjalan menuruni undakan-undakan hijau yang juga ditanami berbagai bunga. Saat akan menuruni jalan, kita bisa melihat camp site yang tersusun rapi dengan tenda-tenda seperti suku indian, membuat kita tidak sabar untuk menuju tempat kemah dan mengabadikan momen di sana. Tak hanya tenda di tempat kemah yang bernuansa indian, toiletnya pun dibentuk seperti ada di pedalaman dengan desain pintu ada jerami rumbai-rumbai. Awalnya bingung buka pintunya gimana dan sedikit risih dengan hiasan rumbai-rumbainya (kesannya jadi gak bersih dan beneran kayak lagi kemah dan masuk ke suku indian), tapi kebersihan toiletnya terjaga. Pun ada musholla dengan menggunakan tenda. Konsep taman ramah lingkungannya benar-benar terasa.


Puas berjalan-jalan, atau sesekali bertemu anak-anak yang sibuk berlarian, saat lapar kita bisa mengunjungi kantin kecil di Alam Wawai. Masih menggunakan tenda besar dengan dihiasi temaram lampu-lampu kecil, membuat kantin ini terlihat romantis (atau mata saya saja yang meilihatnya begitu :D). Harga makanan yang ada di sini masih rasional, mengingat biasanya kalau di tempat wisata harga makanan menjadi mahal, tapi di sini harganya standar dan lumayan menolong perut yang keroncongan. Ada mi seduh, jagung bakar, roti bakar, nasi bakar, ayam bakar. Kebetulan saat ke sana sedang hujan, jadi saya dan teman-teman berteduh di tenda kantin. Karena suasana dingin, jadilah perut lapar dan tergoda untuk pesan makanan, dan rasanya juga lumayan. Entah karena lapar :D.



Saat sampai di bawah, akhirnya bisa bertemu juga dengan objek foto berikutnya: yaitu tempat kemah. Di Alam Wawai ini juga digunakan sebagai tempat kemah. Saya sendiri belum pernah mencoba untuk kemah :D, jadinya dijadikan tempat berpose saja dulu. Ada juga ruang terbuka berbentuk lingkaran dengan undakan yang bisa digunakan sebagai tempat menonton konser. Terakhir ada acara konser Mocca di sana. Sayangnya saya nggak bisa nonton karena terkendala tempat dan waktunya yang malam.


Dengan harga masuknya Rp. 20.000 di akhir pekan, Alam Wawai menawarkan pilihan untuk yang ingin berekreasi dan dekat dengan alam. Tatanan tamannya yang apik membuat tempat ini sesuai dengan branding-nya : Alam Wawai – an eco friendly park. Hanya saja untuk akses kendaraan ke sana yang masih terbatas harus menggunakan kendaraan pribadi dan jalan masuknya yang sempit. Tapi begitu sampai di sana, that’s worth it. 

27 September 2015
19:27

Jumat, 25 September 2015

meet again, dear doodle

pengin cuap-cuap appaaa gitu, tapi rasanya malam sudah larut dan pengin cepat-cepat berlayar ke pulau kapuk, syukur-syukur bisa lucid dream ketemu Buble *uhuk, masih aja.*

di sini saya mau ngucapin syukur buat Sang Maha, Sang Penulis Skenario Tiap Ummat-Nya, terima kasih untuk memberikan saya kesempatan menghirup udara pagi dari rumah yang homey banget, menempatkan saya di sekeliling orang-orang yang baik & perhatian, membimbing langkah saya ke tempat yang berkah, semoga saya selalu dalam bimbingan, lindungan, & kasih sayangMu. Dan bahkan untuk segala tempaan dalam hidup, semoga saya diberi kekuatan yang besar untuk menghadapinya.

Terima kasih juga buat google yang udah buatin doodle (iyaa, tauk bukan saya ajah yang di-doodle-in), suka liat doodlenya (dasar anak virtual).

G is turning 27! Di usia yang udah segini tapi tetep berjiwa muda (ngotot stay young :D) banyak harapan sebenarnya, tapi secara keseluruhan semoga saya jadi lebih baik lagi. How if i'm not that good? Semoga saya bisa terus belajar, berproses untuk jadi baik & tambah baik, bisa tahan ditempa asam garam kehidupan, bisa berbahagia dengan diri sendiri, dan akhirnya bisa membawa kebahagiaan untuk orang lain. Harapan spesifik & cukup spesial yang mau saya sampaikan di sini itu..... semoga saya rajin nulis dan olahraga ;D. Udah segitu aja dulu deh ya (udahnya malu syendiri :D).
Terima kasih & sampai jumpa!
25 September 2015
10:50 p.m.

Senin, 16 Februari 2015

Lost Stars





Please don't see just a girl caught up in dreams and fantasies.
Please see me reaching out for someone I can't see.
Take my hand, let's see where we wake up tomorrow.
Best laid plans; sometimes i'm just a one night stand.
I'll be damned; Cupid's demanding back his arrow.
So let's get drunk on our tears.

And God, tell us the reason is this 
youth wasted on the young.
It's hunting season and this lamb is on the run.
We're searching for meaning...
But are we all lost stars trying to light up the dark?

Who are we? Just a speck of dust within the galaxy.
'Who is me' if we're not careful turns into reality.
Don't you dare let our best memories bring you sorrow.
Yesterday I saw a lion kiss a deer.
Turn the page; maybe we'll find a brand new ending.
Where we're dancing in our tears.

And God, tell us the reason youth 
is this youth on the young.
It's hunting season and this lamb is on the run.
We're searching for meaning...
But are we all lost stars trying to light up the dark?

I thought I saw you out there crying...
I thought I heard you call my name...
I thought I heard you out there crying...
But just the same...

And God, tell us the reason youth is wasted on the young.
It's hunting season and this lamb is on the run.
Searching for meaning...
But are we all lost stars trying to light up the dark?
Are we all lost stars trying to light up the dark?






Note : I thought I could stand not to share this song, but i was wrong. Sumpah yaa, abis nonton filmnya langsung yang mikir, ini Kiera playback or lip-sync doang kali, yaa? Eh, gak tahunya dia nyanyi beneran, dong! (ya tapi kan bisa aja dia ngaku-ngaku nyanyi padahal nyewa orang *masih gak percaya Kiera nyanyi dan lagunya menyayat-nyayat hati* *suaranya juga okee* *ya mungkin juga dibantu efek suara semacam apalah gak ngerti* *please, mbaak*)

Dan untuk lagu yang satu ini, I can't help but share this in my blog, yang bikin saya nyeees banget apalagi waktu liat bagian Gretta (Kiera Knighley) nyanyi untuk Dave (Adam Levine) , si calon bintang yang baru akan menghadapi industri musik, yang kemudian... udahlah, gedek jadinya kalo bahas Dave hakhaks xD. *i saw there would be something at next, dan ketara banget gimana (sebenarnya) cemasnya Gretta terhadap Dave ke depannya, tapi doi tetep optimis*. Sempet ikutan sebel waktu tahu si Dave ngerombak lagu ini di albumnya "on the road', langsung yang mikir, "apa-apaan lah Dave ini make-make lagunya Gretta?". Tapi kemudian inget, ini lagu kan emang dikasihin Gretta ke Dave. Dan waktu Gretta juga sebel lagunya dirombak abis, "I write it as a ballad, I don't know it becomes another stage of pop.", but next guess what happen after Gretta grumbling ngalor ngidul panjang banget, then she smiled and said, "Everything has changed.", well-done-everything-has-changed-that-we-usually-find-as-a-whatever-quote-beautifully-done-by-gorgeous-Gretta.

the saviour in this song
Sometimes I feel like , oh, don't let me fall my tears just for this cheesy song, then i found a lyric, "Who are we? Just a speck of dust within the galaxy", and thanks God i can laugh for that punch. Ya coba kamu artiin lirik yang dicetak tebal ituh, yang bisa jadi begini: "kita mah apa atuh, cuma setitik debu di galaksi"  *woooy, keterlaluan* Saya yang (again) langsung mikir, ini mungkin pencipta lagunya (Gregg Alexander) abis googling lagu yang populer di dunia, terus dia nemu salah satunya lagu "butiran debu" hahaa. Dan tahukah, lagu ini masuk nominasi Oscar 2015 sebagai best song *walau sebenarnya gak peduli juga sama award-award-an*

Sebuah lagu yang cheesy, soft & calm (tapi sedikit upbeat untuk yang bagian Adam Levine), tapi biar kata cheesy , ada juga unsur puitisnya seperti yang di bagian “butiran debu” itu dan bagian “It's hunting season and this lamb is on the run, searching for meaning.. But are we all lost stars trying to light up the dark?” Lagu ini dinyanyikan dalam dua versi: satu versinya Kiera dan satunya versi Adam Levine yang menurut saya, pas di bagian “I thought I saw you out there crying...”, suara khasnya Adam malah jatuhnya kayak Chipmunks gitu hahaa sorry, but i bet you will enjoy this song, as I do today. If you're not into the song, so just let me getting crazy sharing and talking all this s*i**.


another chit-chat:



lucu gimana Kiera pastinya cemas banget mesti kudu rekaman nyanyi, yang tentunya out of her comfort zone, udah gitu ada penyanyi yang udah punya kemampuan yang mumpuni lagi, si Adam Levine. terus yang Adam Levine nenangin dia dengan bilang kalau nyanyi itu easy. yang kemudian Kieranya ketawa "yeah, it's easy for you" (ya eyalaah, mudah menurut lu). Tapi kemudian pewartanya balikin lagi, "pastinya kamu bilang hal yang sama ke Adam Levine, acting is easy", Dan tentunya si cantik-keliatan-baik-baik ini bilang hal itu ke Adam Levine. What a support! Belakangan jadi tahu kalau suami Kiera itu adalah musisi, si James Righton. yah, gitu deh. How this work mean a bit entertaining, relaxing, reflecting, for me.


17 Februari 2015
11:45



Sabtu, 20 Desember 2014

Finding Soulmate





"Lucu kali yaa kalo punya suami penyanyi?"




Celetukan seperti itu terlontar begitu saja di malam hari sepulang kerja saat menunggu hujan reda. Celetukan yang entahlah, sebenarnya wajar, atau terdengar putus asa, atau sekadar terbawa suasana. Saat itu saya tengah memutar lagu sembari menatap jalanan yang dibasahi hujan, yang kemudian disambar oleh angan seorang teman yang mendamba bersuamikan seorang penyanyi. What a life of twenty-something ladiez! :D

Sebagai seorang wanita yang sudah memasuki usia kepala dua, rasanya topik seputaran percintaan dan pencarian belahan jiwa (lagi, pake dibelah segala. jadi ribet sendiri kan nyarinya) menjadi makanan sehari-hari dan tak akan ada habisnya diperbincangkan (ya bow, tau sendiri kan kalo bahannya abis ya jadi kelaperan doong). Seperti yang terjadi di malam yang berhujan, hanya karena saya memutar lagu cinta dari seorang penyanyi yang emang supercharming and adorable, jadilah tercipta angan-angan untuk punya pasangan impian. Saat itu sih saya dan teman-teman gak langsung ngerumpiin perihal pasangan (secara belum ketemu atau belum ditemukan), tapi gak tau kenapa yah sayanya yang jadi kepikiran.

Jadi ginii, yang membuat saya kepikiran adalah di saat kita (terutama para wanita dengan usia 20an) belum bertemu dengan pasangan tersayang, maka yang bisa dilakukan adalah membentuk angan akan seperti apakah pasangan kita tersebut nantinya. Ada yang memasang kriteria untuk mendapatkan pasangan yang ganteng. Ada yang pengin pasangannya nanti punya jiwa kebapakan, ada yang punya selera humor yang asyik, atau ada juga yang pengin punya keahlian khusus, seperti pintar masak, pintar nyanyi, atau pintar mijit (kalau pintar akting mau juga, gak?). Terkadang kita juga jadinya mencari role model sebagai sosok pasangan idaman, seperti kalau untuk penyanyi, penginnya yang dandy and funny kayak Michael Buble, atau charming and cool kayak Adam Levine. Untuk aktor, mungkin pengin punya pasangan kayak Ryan Goosling atau si pemilik aksen seksi Jim Sturgess. Kalau ala pemain bola, pengin memiliki pasangan dengan tampang plus rekening bank milik Christiano Ronaldo, atau Bastian Schweni. Dan setiap kali memikirkan tentang akan seperti apa pasangan kita nantinya, sangatlah seru dan menyenangkan. Abisnya pasti mikirinnya yang baik-baik dan bagus dong ya. Dan setelah berangan-angan biasanya baru berpikir, “terus, bisa dapet di mana yah pasangan yang diidam-idamkan itu?”

Seperti yang terjadi pada pasangan yang saya kenal dan gak tau kenapa, berada di dekat mereka selalu menyenangkan. Keceriaan dan kehangatan selalu terpancar dari mereka berdua, dan juga kemesraan. Saya berpikir kalau pasangan ini sungguh serasi sekali dan selalu kompak sampai saya menemukan fakta yang jadinya lucu, dan ternyata pasangan ini tidaklah selalu kompak seperti yang saya pikirkan. Saat itu sang suami dengan wajah cengar-cengirnya bercerita ke saya kalau istri tersayangnya melabeli dia dengan, “a guy with no imagination”, cuma karena suaminya itu paling gak suka baca buku, sementara istrinya suka banget baca buku. Mendengarnya, saya pun cuma tertawa. Saya tak habis pikir melihat sang istri yang tak bisa lepas dari buku, sementara suaminya akan gampang sekali tertidur setiap kali baca buku, sehingga ia menghindarinya. Tapi rasanya, menilik hubungan mereka yang harmonis, hal itu bukanlah hal yang besar dan i think he got a big excuse form his wife: it’s okay you dislike reading, but you must like and love me forever :)


Sah-sah saja sebenarnya untuk punya kriteria pasangan idaman dan tersayang. Toh, buat yang belum menemukan pasangan, memang menjadi kesenangan tersendiri untuk menciptakan karakter pasangan sendiri. Namun, yang lebih seru lagi adalah  saat kita menemukan pasangan sejati. Akan banyak kejutan-kejutan , penyesuaian dan penerimaan yang mesti dilakukan apalagi kalau ternyata pasangan kita tidak sesuai dengan karakter rekaan kita sebelumnya :D. Tapi lucunya, kita akan excuse untuk kekurangan-kekurangan dari pasangan dan belajar untuk menerima pasangan kita just the way he is. Dari yang tadinya punya kriteria tinggi seperti punya suara semerdu Buble, tampang sekarismatik Michael Ballack, kantong setebel Ronaldo, lalu saat kita menemukan pasangan yang sesungguhnya, kita cuma bisa berkata sambil tertawa, “you’re the most wonderful people that i have, number one above those crazy charming guys.” But before you say it, make sure that he’s worth for all the love and privilage you are going to share ;).



...It's not easy when the road is your driver
Honey, that's a heavy load that we bear
But you know I won't be traveling a lifetime
It's cold out but hold out and do like I do
 

OhIneedyou...

*kemudian nti kalo punya anak penginnya yang punya suara merdu and supaclean macam Hanin. what a life of dreamy lives ;)*




December 21st
10:45 a.m.





Jumat, 31 Oktober 2014

Dicari : Pemakan Pizza dengan Penuh Cinta

Saya bukanlah seseorang yang getol makan. Maksudnya saya gak punya tuh selera makan yang bagus, yang bikin orang saat ngeliat saya makan jadinya ketularan pengin makan. Yang ada sih pada gemes kalau liat gaya saya makan yang suka cimik-cimik, bener-bener gak nyemangatin deh. Atau terkadang saya lamaaaa sekali kalau lagi makan. Bahkan sering my mom berkomentar, "yaelah mbak, kesuen lek mangan. keburu anakmu tibo (nek wes nduwe anak)." My granpa pun sesekali kala itu berkomentar, "Gita ini kalau makan lama ya, tapi yo abis juga. Yowes alon-alon asal klakon."

Saya menyadari kalau kecepatan saya makan harus segera ditingkatkan *ya kalau gak mau anaknya suka jatoh* ya tapi kan belum punya anak yak?* Saya setuju banyak hal yang perlu dilakukan dan butuh waktu yang lebih banyak, yang sayang rasanya kalau hanya dihabiskan untuk perkara makan. Saya pun sebenarnya tak selalu makan dengan lambat dan tak bergairah. Jika menu makanannya yang saya mau dan saya suka, maka saya bisa makan dengan kecepatan rata-rata atau luar biasa, tentunya penuh gairah pula. Namun yah, mengingat dunia bukanlah pabrik pewujud keinginan *kata Augustus Water sih ya* dan dengan segala keterbatasan saya untuk bisa mendapatkan makanan yang saya inginkan dan butuh proses yang belum saya akrabi saat ini *iya, mau ngomong masak aja jadi pance yah*, maka saya seringkali berhadapan dengan makanan yang tak terlalu ingin saya makan.

Apakah saya pemilih makanan? Rasanya tidak juga. Saya sadar diri karena kemampuan masak saya masih payah, jadi saya hanya nerimo makanan apa yang tersaji. Dan ya, saya memakannya. Saya juga tak punya pantangan makanan apa-apa *sujud syukur*. Namun adakalanya di saat selera makan saya kacau *speednya berantakan, makan gak dinikmati lagi*, maka saya perlu mencari variasi menu makanan. Dan akhir-akhir ini, saya sedang pengin makan pizza. Ya, percaya atau tidak, mencari partner makan itu merupakan PR dalam kehidupan *maaf, susah cari analogi gitu deh*. Rasanya kalau gak ketemu partner makan yang gak sealiran itu kurang seru yah. Dan saya yang termasuk belum bisa mengisi PR untuk siapakah partner makan pizza yang asyik, yang punya sense of appetite yang asyik, yang kalau ngeliat orang itu makan jadi ikutan semangat makan *sumpah, mbaknya mau makan aja berasa ikutan lomba pake semangat-semangat segala* pasang ikat kepala* Sempat ada partner makan yang sealiran: suka makan pizza, bakso, siomay, Mr. Celups, tapi doi sekarang udah nikah dan masih rempong menempuh hidup barunya *iya, saya tungguin kamu sampai si baby gedean dan bisa dititip-titipin :D*

Nah, sembari di masa penantian inilah saya jadi kepikiran untuk dapetin partner in crime in eating pizza. Pengin ngajakin my mom, tapi dianya kalau diajak ke tempat pizza sukanya cimik-cimik aja *paling banter pesen salad.* Ngajakin my sister, entar sayanya tombok :D. Kalau sama My dear friends, sepertinya pada gak getol banget makan pizza. Sementara saya maunya itu orang juga doyan makan pizza. Pengin makan bareng orang yang nyenengin, yang kalau ngeliatnya jadi ketularan lahap makan, yang syukur-syukur punya sense of treating alias suka nraktir *tapi saya rela kok kalau suruh bayar masing-masing* Namun hey, sebelum cari partner-partneran, gimana kalau polanya yang saya ubah? Gimana kalau gak taunya sayalah yang "dicari" untuk bisa jadi partner makan yang asyik, menyenangkan, yang penuh semangat. Hayoo, bisa gak coba? Well, kalau ada yang beneran nyari nih ya, I promise I try my best! Jadi, coba ah biar kalau makan keliatan semangat dan berselera, jadinya menyenangkan, dan kalaupun belum terlihat seperti itu, mau gak kalau saya jadi pemakan yang penuh kasih dan cinta? *iki opooo* Dan jangan duka jangan lara, saya bisa jadi partner yang aman lah karena saya si pemakan segala. haha.




October 31st, 2014
11:55 p.m.

Minggu, 24 Agustus 2014

Hal-Hal yang Dulu Sering Dilakukan tapi Kini Jarang Bahkan Hampir Tidak Pernah

Hatchiiiiiiim -- Haduh duh, permisi ya mau bersihin debu dulu. Ini blog udah ampe sawangan gini. ckckckckck. Hhhmm, kayaknya udah rada bersihan *cepet amaat bersih-bersihnya*. Ya udahlah, marilah langsung menulis-nulis saja.


Jadi gini... ceritanya lagi pengin buat list tentang apa gitu ya *tentangpriaidamancobanyaya *yabebas*yatapikagakok*. Maka jadilah saya buat daftar hal-hal seperti yang tertera di judul postingan kali ini *males ngetiknya lagi*.

1. Ironing the mountain of clothes.
  "Huah, libur hari Minggu ini mesti beresin setrikaan." Tak jarang kata-kata itu yang terdengar dari teman-teman saya di saat akhir pekan, ketika sedang membicarakan rencana di hari Minggu. Dan harusnya saya bisa bernapas lega karena saya kini terbebas dari acara menyetrika. Sebenarnya saya cukup senang menyetrika. Posisi nyetrika favorit adalah lesehan di depan tipi, yang kemudian kalau capek saya bisa selonjoran, kemudian rebahan, sampai ketiduran di alas setrikaan :D. Sampai akhirnya si mami memutuskan untuk langsung saja melipat baju-baju yang baru dicuci dan silakan masukkan ke lemari masing-masing. Jadilah di rumah menganut paham ironing when it's needed. Dan tak jarang, baju-baju yang saya kenakan yang tidak terlalu perlu disetrika. Sungguh praktis dan terselematkan dari acara yang bikin pegal dan gerah, but actually I enjoy it *in some case*

2. Latihan masak.
Kapan terakhir kali kamu masak? Hhhmm, kalau yang dimaksud masak adalah sekadar masak air *what?! kelewataaan*, atau masak mie instan atau telor ceplok, itu pun sepertinya seminggu yang lalu hahaa. Saya memang paling malas kalau sudah berurusan dengan masak-memasak. Lebih milih bersih-bersih deh daripada acara masak-masak yang rempong dan prosesnya panjaang. Tapi biar begitu, saya pernah semangat buat belajar masak. Sempat terpaku di bagian resep masakan kalau ada bazar buku *iyaa, biar cuma liat resep pun udah suatu niat yang besar loh buat saya*, terus fotoin penjelasan cara masaknya. Kemudian dipraktekkin? Kagak :DD. Tapi percayalah, semangat untuk belajar masak itu ada dan saya sempat rajin mencoba terjun di dapur sendiri walau hasilnya cukup memprihatinkan. Satu tahapan yang belum bisa saya atasi dan paling rempong saat masak adalah tahapan mencicipi. Itu bener-bener menguji kesabaran dah, apalagi kalau masakannya udah ditambahin ini itu tak kunjung sedap. Tapi sekarang lagi gak se-semangat kala waktu itu.

3. Libur yang menghibur = bepergian
Buat saya, saat libur adalah saat di mana kita harus menjadi segar, senang, dan terhibur, Dan hal itu bisa didapat dengan bepergian. Bepergiannya bisa ke mana saja: ke rumah saudara, ke rumah teman, ke mall, ke toko buku. Pokoknya tidak berdiam di rumah saja. Dalam seminggu kan ada satu hari libur tuh. Nah, satu hari itu bisa dipakai dua atau tiga jamnya untuk keluar rumah. Namun sekarang rasanya hal itu tak berlaku lagi. Saat libur adalah saat di mana kita harus menjadi segar, senang, terhibur, dan tenang. Saat ini saya malah lebih senang mengisi waktu libur dengan membersihkan rumah (nyapu, ngepel, nyuci), kemudian merawat diri. Rasanya menenangkan saat mencium wangi detergen dan wangi cairan pembersih lantai yang *katanya* beraroma terapi. Rasanya pun jadi menyenangkan kalau lihat rumah lebih bersih dan agak lebih rapi. Saya malah menunggu-nunggu hari libur untuk kembali merapikan rumah (bagian-bagian mana yang belum terjamah).

4. Being noisy.
Hey, gak nyangka kan kalau saya anaknya berisik dan bawel, ya kan ya kan? ;) Tapi benar kok, saya rasa saya sudah gak seberisik yang dulu *bahkan saya pun rada lupa loh gimana sejarahnya saya bisa berisik* Ehiyaa, gara-gara kapan itu saya beres-beres terus nemu kesan-kesan dari teman SMA. Banyak yang bilang kalau saya tuh cerewet, ceplas-ceplos dan galak haha :D *tapi saya baik juga kok*dalam rangka pemulihan nama baik*. Dan sungguh deh, mungkin karena faktor U *iye, u untuk untu, eh umur* udah keabisan energi kali ya buat berbawel-bawel ria. Mungkin saya juga lebih menahan diri untuk tidak banyak bicara daripada menyakiti *aseek*apanya yang asek*. Tapi serius, terkadang saya masih suka mikir, "aku seberisik apa sih dulu", dan ya, kadang pengin juga jadi bawel lagi *lantas sepertinya jadi banyak cincong di blog ini ya, boow*

5. Talking to strangers.
Yeaaa, I really miss this moment, but it seems like there's no enough space & of course no more time for strangers haha :D. But I do enjoy talking to strangers. It's like you can tell them all you want, and you get their reactions, and it's up to you to take their advice or just throw it away :DD. Somehow, I'm quite extrovert to the strangers. Then remember the rule, stranger is stranger.

6. Bersenandung di jok belakang motor.
Sekarang sih kalau mau tiba-tiba nyanyi-nyanyi takutnya diturunin sebelum sampai tujuan hahaa. Lagian sadar suara aja sih ya, udah nebeng motoran, eh si pengemudinya dikasih polusi suara segala pake acara nyanyi-nyanyi. Entah kenapa sempat berani-beranian bersenandung gak jelas sepanjang perjalanan. Tapi sekarang sih malah jadinya ngerumpi kalau bareng sama teman tersayang.


7. Bilang rindu seenak jidat.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------no description------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Emang jidat itu enak?



August 24th, 2014
11:33 p.m.
 

Sample text

Sample Text