Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label #reflection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #reflection. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 November 2013

Tentang Kepulangan

Siang tadi saya diminta teman tersayang untuk menemaninya kala jam istirahat kerja. Kali ini ia minta ditemani ke tempat dan momen yang berbeda. Jika biasanya saya suka menemani atau minta ditemani untuk hal-hal yang menyenangkan, seperti membeli keperluan bulanan, mencari kado, belanja buku-buku, atau untuk hal-hal yang ribet tapi dibawa senang, seperti mengurus pajak motor, atau mengepos barang, namun siang tadi berbeda. Teman saya minta ditemani untuk melayat teman sekelasnya di masa kuliah. Saya tidak mengenal temannya ini, namun saya tahu perihal kepulangannya ke pangkuan sang pencipta sejak kemarin melalui postingan teman-teman yang lain di media sosial. Aditya Prasetya, berpulang saat menjalankan tugasnya di Maluku Tenggara Barat sebagai salah satu pengajar muda Indonesia Mengajar angkatan VI. Menurut yang tertulis di akun Indonesia Mengajar, Aditya meninggal dalam keadaan damai ketika sedang tertidur saat sedang menginap di rumah dinas Bupati MTB. Ia bersama teman-teman sekabupatennya sedang menyiapkan pelatihan guru di ibu kota MTB. Malam hari sekitar pukul sembilan, Aditya pamit untuk tidur duluan, dan keesokan harinya, tanggal 5 November 2013 saat temannya hendak membangunkan Adit, badan Adit sudah dalam keadaan dingin. Bupati MTB segera memanggil dokter pribadinya untuk memberikan tindakan medis. Dokter kemudian menyatakan Aditya sudah meninggal dunia.

Kepulangannya yang mendadak sontak membuat semuanya terkejut. Saya, yang tak mengenalnya saja, rasanya bisa turut merasakan kehilangan dari keluarga, kerabat, dan teman-teman terdekat. Adit meninggal saat ia jauh dari keluarga, kerabat, dan teman-teman terdekat, terlebih ia tengah menjalani tugas yang mulia, mengabdikan diri menjadi pengajar di daerah-daerah pelosok. Maka tak heran ketika saya sampai di rumah duka, rumah kecil di tengah rapatnya rumah-rumah yang lain itu sesak oleh para pelayat yang turut berbela sungkawa. Apakah di antara para pelayat itu ada yang tak kenal dengan Adit seperti saya? Entahlah. Mungkin ada.

Jenazah belum tiba saat saya dan teman saya melayat, dan orang-orang tetap silih berganti berdatangan. Saat memasuki rumahnya, ibunda Adit tampak dikelilingi pelayat, dan akhirnya saya dan teman saya memilih untuk duduk di dekat pintu. Teman saya pun bercerita tentang Adit: dia tidak terlalu dekat dengan Adit, namun ada satu cerita yang tak terlupakan. Kala itu saat ujian teman saya hendak memberikan contekan ke temannya yang belum belajar melalui Adit, dan Adit menolaknya. Idealis, teman saya bilang begitu. Saya pun menyimaknya. Berada di rumah duka membuat kami juga ikut berduka, dan jadi kembali mengingat kepulangan-kepulangan orang tersayang. Saya pun malah bercerita tentang kepulangan ayah saya, teman saya pun begitu, yang membuat kami jadi diliputi kesedihan karena kehilangan orang-orang tersayang. Namun saya teringat kata-kata bang Tere tentang kepergian dan kepulangan. Kurang lebih begini: "mengenai kepulangan orang tersayang untuk selama-lamanya, selalu lihat dari sisi yang pergi, bukan dari yang ditinggalkan." Ya, agar kita bisa menerima kepergian orang-orang tersayang dengan ikhlas. Tak mudah memang, sedih pasti ada, namun kita memang harus merelakan kepergian orang-orang tersayang ke keabadian, dan kelak kita semua akan menuju ke sana.

Ketika pamit pulang, ibu Adit berkata untuk memaafkan segala kesalahan anaknya. Rasanya saya ingin menjawab kaau saya tidak mengenal Adit, dan tidak ada yang perlu dimaafkan. Begitu pun saat kami bersalaman dengan adiknya Adit. Ketika melintasi meja saat berpamitan, tertera nama Adit dan tanggal lahirnya yang membuat saya terenyuh. Usianya sama seperti saya. Betapa kita tidak pernah tahu skenario yang telah ditetapkan sang Pencipta. Betapa maut bisa menghampiri siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Lalu saat melihat ramainya pelayat dan mendengar sedikit obrolan mereka, mereka selalu bercerita tentang kebaikan-kebaikan Adit. Adit yang baik, Adit yang semangat, Adit yang optimis. Betapa kepergiannya dipenuhi cerita kebaikan. Sontak saya membayangkan diri saya: akankah saya juga akan diingat dengan kebaikan-kebaikan?

Selamat jalan Adit.... beristirahat dengan damai dan tenang... kepulanganmu mengingatkanku untuk selalu berbuat baik dan yang terbaik, karena kebaikan tak akan pernah mati, sekali pun raga ini telah mati dan terkubur sendiri. 




November 7th, 2013
1:11 a.m.

Rabu, 25 September 2013

25 on 25

Halo pembaca yang budiman, sudah lama ya tidak berjumpa dalam rangkaian aksara dan kata... *laah, pan tadi pagi udah posting sik?! | ya tapi kan terakhir rajin posting bulan lalu. kan udah lama kan, kan?* oke stop rusuuuh dah ah | ya udah sik, kan blog blog saya in..... e$%^&O_)&(FB?O$%^*kemudian gelutan*hentikaaaaaaaaaaan!

Oke..oke... sekarang fokus yaa *tahan nafas -- tahan tahaan -- tahaaan (oooy, mau sampe kapaan?)*oke,hembuskan* Yak, jadi ceritanya hari ini saya bertambah tua saudara-saudara sekalian. Hari ini tuh tertanggal 25 September adalah hari ulang tahun saya, dan hari ini saya resmi berumur 25 tahun *gak ketara ya? kayak masih anak SMA kan ya?* iya aja dah yaa biar mingkem*. Nah, kalau Shakespeare pernah berkata : "apalah arti sebuah nama", maka di sini saya juga tak mau kalah. Gita Prista yang cantik jelita lahir batinnya berkata : "apalah arti sebuah angka dalam balutan usia" wow banget gak, tuh? Yah ungkapan tadi sih sebenarnya cuma semacam pembelaan aja sih atas apa yang menimpa saya mulai hari ini: umur saya dua lima boook, seperempat abad loh.. seperempat.abad. Ya tapi kembali lagi, apalah artinya angka tersebut -- dua lima -- terdiri dari dua kata doang. Jadi anggap aja umur kamu dua tahun. Udah yaa, beres! Selesai. Bye-by........ Eh, tunggu. Masih nulis niih.

Jadi, di umur yang dua lima ini, buat saya seperti menjadi gerbang buat saya untuk bisa lebih dewasa lagi, lebih bijaksana dalam menjalani hidup *tsaelaah*. Kenapa mesti pas umur dua lima? Apalah arti umur dua lima? Nah loh, iya juga sik. Kenapa sih yaa, kenapa? Saya pun tak tahu kenapa persisnya, tapi menurut saya, seiring bertambahnya usia maka kita pun bertambah tua, dan untuk bertambah tua itu adalah suatu kepastian, tapi untuk menjadi bijaksana itu merupakan suatu pilihan *ayeeey*. Dan saya pun semakin merasakan dan berpikir: "apa yang sudah kamu lakukan selama dua lima tahun hidupmu? Sudah berbuat baikkah untuk sesama dan semesta? Sudah menjadi orang yang bermanfaatkah?" *set dah, sumpeh rada terenyuh juga nih*kayaknya kerjaannya masih ngurusin diri sendiri meluluu*
Well, tapi kita memang perlu membenahi diri kita sendiri terlebih dahulu toh. Jadi, seiring bertambahnya usia saya, saya pun punya harapan-harapan untuk diri saya agar:

- senantiasa sehat (akhir-akhir ini suka gampang sakit, dan boook, kalo udah sakit mana ada enak-enaknya. kalau sehat kan senang tenteram nyaman aman damai sejahtera sentosa)
- rezeki lancar.
- selalu berada di sekitar orang-orang yang menyayangi saya dan saya sayangi (energi-energi positif dari orang-orang tersayang itu berharga sekali, pemirsaah)
-lebih bijaksana lagi
-menjadi manusia yang memiliki energi-energi positif dan bisa bermanfaat
- lebih berbahagia dan bersyukur
- menjadi lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi


Begitulah harapan-harapan saya. Mohon di-aamiin-kan juga yaa! :) Eh Git, Git, yakin udah tuh harapannya? Soal jodoh gimana? *asyiiik banget sih mancing-mancing ;)))* Oke, di sini saya mau buka kartu sedikit, jadi beruntunglah buat pembaca blog saya ini bisa tahu apa kartu saya :p *berasa orang penting amat dah ah*. Sebenarnya, entah dari kapan tau (pas jaman-jaman kuliah kayaknya), setiap kali saya ditanya kapan nikah, saya selalu jawabnya: "pengennya sih pas umur dua lima." Tau deh atas dasar apa juga , eh tau ding sebenarnya karena menurut saya (saat itu) dua lima merupakan usia yang pas dan matang untuk berumah tangga. Sotoy banget gak sik? He eeh, ke-sotoy-an saya itu baru berasa sekarang ini. Sekarang saya malah berpikirnya : ternyata banyak banget yang perlu dipersiapkan untuk menuju ke pernikahan itu. Bukan umur yang jadi patokannya. Jadi, di usia dua lima ini masih pengin nikah gak? Yaa masih dong,ah. Masa iya gak kepengen.  Tapii, sekarang saya gak lagi mematoknya dari usia dan ketar-ketir: "duuuh, gue udah dua lima nih, nih. joduhku mana oh! duh duh duuh" . Enggak. Saya lebih ingin menikmati setiap proses kehidupan saya : baik itu menyenangkan, menyebalkan, melelahkan, mencerahkan, semuanya. Nikmat saja setiap prosesnya, sambil terus belajar memperbaiki diri, sampai menemukan jodoh yang diidamkan dan tentunya sudah dipersiapkan, sampai kemudian menjalani lagi perjalanan kehidupan bersamanya, selamanya.

Semoga kebahagiaan senantiasa bersama saya dan anda, pembaca! :))
Salam cinta. _G_



September 26th, 2013
00:13 a.m.





Minggu, 16 Juni 2013

Keep Doing Good!

Saya lupa kapan awal persisnya ada bude penjual sayur yang mangkal di samping teras rumah. Sepertinya dari saat saya masih kuliah. Tidak jadi masalah, toh kehadiran bude sayur malah membantu orang rumah yang suka malas keluar-keluar, jadi kalau mau beli sayur & mau masak, jadi lebih praktis tinggal keluar beberapa langkah, langsung dapat bahan makanan yang siap diolah. Bude sayur ini selalu mangkal di pagi hari, sekitar dari pukul 7 sampai setengah 10. Tidak setiap hari orang rumah belanja sayur, namun kadang di saat lagi mau beli sayur, eh bude sayurnya tidak datang. Kalau bude sayur tidak datang, bisa berarti saat itu hari hujan sehingga bude tidak berjualan, atau anaknya ada yang sakit, atau budenya yang sakit. Tapi seringkali bude sayur tidak datang karena cuaca hujan. Yah, kalau hujan , jualan bude jadi basah dan bude pun ikut kebasahan karena di halaman rumah hanya ada atap kecil yang bisa melindunginya dari hujan. Tak jarang pula bude terjebak hujan. Saat Subuh ia belanja ke pasar, langit tidak menunjukkan tanda akan hujan, dan saat dia sampai di tempatnya berjualan, ternyata hujan sudah mengguyur pagi. Kalau sudah begitu, kadang bude tetap menggelar jualannya. Saat hujan dan ada bude sayur yang berjualan, biasanya nenek saya meminta saya untuk membukakan rolling door di samping rumah, agar bude sayur bisa sedikit masuk dan tidak kehujanan. Tak hanya itu, nenek juga suka membuatkan bude sayur teh panas (padahal terkadang untuk membuat teh untuknya, nenek meminta tolong dibuatkan saya). Kala itu di pagi hari kalau tidak ada jam kuliah, tentunya saya masih lengket di tempat tidur, terlebih lagi kalau hujan, sementara nenek saya sibuk membuatkan teh hangat untuk bude sayur. Sempat terpikir : "kenapa nenek saya kepikiran untuk membuatkan teh yaa, sementara saya malah masih bermalas-malasan di kamar." Sampai suatu hari kembali hujan,bude sayur berjualan di teras samping rumah, nenek menyuruh saya untuk membuatkan teh dan berkata : "itu mbok bude sayur dibuatin teh...biar tubuhnya anget. Ujan-ujan gini kan enak nge-teh to...."

 =================================================================

Pagi ini hujan lagi. Sepertinya hujan dari Subuh tadi. Dan bude sayur tetap berjualan, padahal beberapa hari kemarin dia tidak berjualan. Modalnya terpakai katanya. Pagi ini hujan. Dan tidak ada lagi nenek di rumah. Tiba-tiba saya ingat apa yang selalu dilakukan nenek saya ke bude sayur kala hujan. Saya, yang tadi pagi saja malas-malasan bangun untuk merebus air dan membuatkan teh untuk mami, kali ini beranjak ke dapur, memanaskan air dan kembali membuat teh dengan semangat. Sampai mami bertanya : "loh mbak, kok buat teh lagi?" Dan saya pun menjawab : "ini buat bude sayur , mi..." Mungkin mami heran liat anaknya pagi-pagi kesambet apaan kok udah peduli sama orang (ini sih cuma perkiraan saya saja). Saat membawakan teh panas  ke depan, saya pun bilang : "ingat ibok, mi... :)" (saya memanggil nenek saya ibok)

 Ya, hal kecil sebenarnya, hanya hal kecil dengan membuatkan teh panas di kala hujan yang dicontohkan nenek saya. Hal kecil yang juga bernilai kebaikan. Pernahkah kamu merasa capek untuk melakukan hal-hal baik? Sepertinya kita telah berbuat baik, tapi hasilnya begitu-begitu saja. Kita sudah berbuat baik, tapi tetap dikecewakan, tetap merasa tersakiti, tidak dihargai. Tapi hey, jangan sedikitpun berpaling dari hal-hal yang baik. Tetap pasti akan ada yang kita petik dari kebaikan-kebaikan tersebut. Dan dengan melakukan kebaikan, siapa tahu kebaikan kita itu pun ditiru, dilakukan juga oleh orang lainnya, seperti kebaikan yang dicontohkan oleh nenek saya, dan saat beliau sudah tiada, saya ingat apa yang dilakukannya dan menerapkannya. Ini juga jadi pengingat buat saya untuk terus melakukan hal-hal baik. Let's keep doing good! Insyaallah kebaikan kita bisa bermanfaat.


June 17th, 2013
10:13 a.m.

Rabu, 22 Mei 2013

My Heart Draws a Dream

 May 22nd. 2013
11:00 p.m.

 
Ini salah satu konser tergila yang pernah saya tonton! *sekalipun saya nontonnya terbatas layar kaca*. Seperti yang pernah saya sampaikan, kalau saya suka banget nonton konser, ditambah suka crowd-nya. Setiap kali ada konser besar di Indonesia *dan saya tidak bisa menghadirinya*hiiks*, saya pasti menyempatkan untuk mencari-cari unduhan para penonton di youtube. hehehehe.. lumayan biar gak hadir secara langsung, tapi bisa ikutan menyimak crowd-nya gimana, sama sekalian ngecek vokalisnya fals apa kagak.. hohooho udah berasa pelatih vokal ajaa.. Nah, dari sekian banyak video konser yang saya simak, saya terkesan sama video yang satu ini.

Berawal dari seorang teman di fesbuk yang sangat tergila-gila sama band ini, dan menjelang konsernya di Indonesia setahun yang lalu , teman saya itu rajin memposting segala macam tentang band ini. Dan setelah konser berlangsung pun, dia memposting video live concert-nya (walaupun bukan dia yang merekam). Naaah, saya pun jadi tergoda untuk menyimak videonya. I have no idea about this band, & even i don't understand their language , but at that moment I just wanted to see their performance  as i was so curious because my friend kept posting about this band .... dan ternyataaaaa, emang keren gila! 
Apanya yang keren, Taa? Emang ngerti tuh lagu tentang apa? Well, this is what i called "the power of music". Gak peduli gak ngerti bahasanya, gak peduli buta not balok, tapi dari alunan musik bisa menyatukan segala keterbatasan / ketidaktahuan itu. Just enjoy the music , with no pretense, just for music itself. Dan melihat performa band ini, gak tau kenapa bikin saya merinding *jarang-jarang loh sampai ada efek samping merinding* , merinding demi dengar petikan gitarnya, merinding demi dengar lagunya, merinding demi ngeliat crowd-nya yang tumplek meruah gituu, tapi sepertinya konsernya berjalan tertib. Pokoknya totally awesome! 

Usut punya usut, ternyata band ini udah berdiri dari tahun 1991. Jadii, kebayang dong buat yang udah nge-fans dari awal, berarti udah menantikan kedatangan band ini selama 21 tahun. Wooow! Dan akhirnya konser ini tergelar juga dalam rangkaian World Tour 2012 di Indonesia. Sempat ketar-ketir terjadi pembatalan karena konsernya kemarin bertepatan dengan hari buruh dunia, 2 Mei 2012, tapi akhirnya konsernya terlaksana dan berjalan lancar, dan tentunya meninggalkan kesan yang terdalam. Bukan buat para fansnya aja ternyata, tapi juga buat bandnya. Liat-liat dari postingan temen saya itu sih, katanya dari official band-nya juga terkesan sama sambutan dari Indonesia : udah ramee banget yang dateng, trus beragam orang pula, trus nyanyinya  paling kuenceeeeng! hehhehhe Indonesia gitu loh. Tapi saya juga (yang bukan fans-nya aja) turut bersuka citaa liat betapa bounding antara penonton dan band ini begitu terhubung, terbukti kedua pihak sama-sama mendapatkan kesan dari konser ini. Aaaah, keren deh pokoknya!

Naaah, pada tau band apakah ini *malah tebak-tebakan* Yaak, band ini bernama L'Arc en Ciel (dibaca: Laruku) diambil dari bahasa Perancis yang berarti pelangi. Lucuu yak, di Indonesia malah ada band Nidji yang diambil dari bahasa Jepang yang berarti sama, pelangi *kenapa enggak Giring dkk bikin band pelangi aja sih yaa pake bahasa Indo :D*cuma ngomong* Balik lagi ke Laruku, hhmmm... ya udah dulu deh yaa segitu aja , sekarang saatnya menikmati videonyaaa~~ selamat menikmati! :)

 Note : saya cuma bisa ngikutin pas di bagian "My heart draws a dream" sama "Yume wa egoku yo" :DD
Sebenernya saya lagi menahan diri untuk enggak mencari tahu tentang band ini (cukup lagu ini), bukan apa-apa, cuma takut ketarik jadi fans akutnya. Kan kasian bang Buble nti nyariin saya.. *tipikal fans setia*hahahaha* Tapi, saya rasa lagu ini punya pesan yang bagus. Dilihat dari judulnya aja : my heart draws a dream. Jadii, buat para cielers *sebutan untuk fans Laruku*maap kalo salah ketik* buat para fans Buble, buat para penikmat musik, buat para pemimpi, mari kita bersatu dalam musik dan tak lupa terus mengukir mimpi dalam hati kta sampai suatu saat mimpi kita terwujudkan~~~ *dan saya pun bermimpi untuk menyaksikan konser bang Buble*teteeeup* dah aaahh... byee~~
 


Kamis, 18 April 2013

Ada Apa dengan Cinta Brontosaurus?

"Hei, kenapa sih suka baca itu?" Seseorang  pernah menanyakannya saat saya tengah asyik membaca *dan sepertinya sambil senyum-senyum ketawa*, dan (entah) ada apa dengan saya *mungkin lagi terlalu peka* saya ngerasanya kok nanyanya gitu banget, tapi karena saya lagi asyik baca dan terlena dalam bacaan, saya menjawab seadanya : "Abis lucu..." Dan saat saya meninggalkannya untuk mengambilkan minum, saat kembali saya menemukannya tengah membaca dan tersenyum-senyum - okay, it's time to tease : " Hei, baca juga?" | "Eh... abis lucu.." :)

 And it was a long long time ago, sampe akhirnya saya bertemu lagi dengan buku itu, tadi sore dibawa sama anak kelas 6 esde *yaiyalaah mana ada 6 esempe*, and that brings me to an old question : "kenapa suka baca itu?"  yang saat itu saya cuma bisa jawab karena lucu, tapi kali ini saya mau menguraikannya...

Well, dimulai dari pertama baca buku ini. Awalnya dapet dari minjem temen jaman awal kuliah, dan pertama minjem yang Kambing Jantan. Sebenernya nih buku gak ngena-ngena amat di saya : yah cuma buat isi waktu liburan aja & buat hiburan. Dan ternyata, isinya emang kocak-kocak, walo kalo ditanya detail cerita-ceritanya apa aja, saya juga udah lupa *hehehe...maapin yak Bang Dika* that's why i call "gak ngena-ngena amat" - sekadar baca. Pun akhirnya begitu saat saya meminjam buku-buku RD lainnya *iyeeh, modal minjem doaang* : Cinta Brontosaurus, Radikus Makan Kakus, Babi Ngesot, Marmut Merah Jambu, Manusia Setengah Salmon. Tapi ada beberapa cerita yang cukup *masih dalam taraf cukup* saya ingat : salah satunya ada di Cinta Brontosaurus. Dan tadi pun, saat saya menemukan buku itu, saya sempat bertanya-tanya : "ada apa dengan cinta brontosaurus?" and finally i could set my mosaics: ada dua cerita yang saya suka di buku tersebut...









Cinta Brontosaurus
Bercerita tentang Dika yg mulai ngerasain naksir-naksiran saat jaman esde, tapi mamanya selalu wanti-wanti kalo itu namanya cinta monyet. Namanya masih bocah, dibilang begitu jadinya malah tambah bingung: "kok dibilang cinta monyet sih? Orang saya naksir berat sama tuh cewek. Kok disama-samain sama monyet." Sampai akhirnya Dika bener-bener ngegebet cewek incarannya & melakukan segala cara buat dapetin cewk idaman : dia jadi lebih sedikit merhatiin penampilan : dari yg tadinya cuek" aja potong rambut sama tukang cukur abal-abal, dia bela-belain minta potong rambut di salon. Yah, singkat cerita akhirnya Dika berhasil dapetin cewek yang dia taksir. Tapi kemudian akhirnya mereka bubaran (anak esde looh) gara-gara Dika disuruh nulis surat ama ceweknya, eh dia (yang gak tau apa, gimana bentuk surat) malah buat semacam biodata gitu dan sukseslah dia jadi bahan ketawaan dan si ceweknya malu, jadilah mereka bubaran *ambil tisyu* Sampai pada akhirnya mikir kenapa cinta waktu kecil dibilan cinta monyet. Ya mungkin karena saat jatuh cinta, orang yang gak kejatuhan cinta itu ngeliat kita layaknya monyet yg jadi tontonan, lucu, ngelakuin banyak gaya gara-gara *yang katanya* cinta. Tapi kemudian Dika mikir lagi, betapa perasaannya waktu kecil itu Ipure, natural, gak dibuat-buat : suka ya suka. Gak ada yang mikir ini-itu. Nah, saat dewasa  kita gak bisa "sejujur" waktu masih kecil saat berhubungan dengan cinta : yang gengsi-lah, mikirin taktik A lah, mikir cocok apa enggak, ortu sreg apa enggak, dsb. Menurut Dika perasaan cinta a la dewasa malah lebih di bawah kelas sama cinta monyet, lebih primitif lagi. That's why he called :Cinta Brotosaurus."

Di Balik Jendela
Dika memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Adelaide - Melbourne dengan bus, yang bakal makan waktu 10 jam, but it doesn't matter for him coz he needs a long trip while thinking - he just broke up. Di bus, dia merhatiin orang-orang yang ada di sekitar. Semua tampak biasa-biasa. Ada orang duduk pake kaos biasa, sepasang manusia yang sepertinya tengah dimabuk cinta. Hhmm.. but it's all about the cover - seems so-so. Tapi gimana kalo orang yang terlihat biasa itu ternyata abis kehilangan seseorang, siapa yang tau kalo pasangan yang kelihatan saling cinta itu ternyata abis bertengkar hebat. Sama seperti dia yang terlihat biasa saja, tengah duduk di dalam bus, adakah yang tahu kalo dirinya baru seminggu putus. Yah, semua sibuk dengan diri masing-masing, and life goes on. Sekalipun dia berkoar-koar kalo dia abis putus cinta, dan teman baiknya bilang "iya, gue tau kok rasanya" tetep, gak bisa ada yang ngerasain selain dirinya sendiri. Dan untuk itulah dia butuh suatu perjalanan, yang sialnya dia mesti satu bangku dengan bule berukuran jumbo dengan ketek bau ikan asin *ketek macam apa itu yaa?* Di balik jendela, dia liat bulan menggantung di langit sana, and flashback starts when his Ex- asked him : "Coba liat langit di sana ada bulan gak?" | "iya, lagi ada bulan.| "Lucu ya, biarpun terpisahkan jarak, kita bisa liat bulan yang sama. Dan bikin kita berasa dekat.| Dan kini, jarak-lah yang jadi alasan  mereka pisah. Jarak. Jarak. Jarak. Jarak. Jarak. Diulang-ulangnya kata tersebut sampai kehilangan makna. Bagaimana bisa karena jarak? Bukankah dia sudah menghadapi jarak selama 2,5 tahun, dan kini jarak jadi biang keroknya.  Dan terputarlah lagu-lagu yang pernah menghiasi hubungannya, membuatnya berkutat dengan memori saat bersama. Kemana larinya kekuatan yang bikin bertahan, kemanakah pengertian, penerimaan yang bisa membuat bersama? Apa pada akhirnya kita melupakan janji-janji, termakan janji-janji? Atau karena perasaan yang kini tidak sama lagi. Namun akhirnya dia berpikir : The world will keep moving on, and I will keep standing. Dan sesampainya di Melbourne : dia bisa berdamai dengan perasaannya.

Nah, itu  dua cerita yang saya suka dari bang Dika. Kenapa? Karena, di balik cerita-ceritanya yang konyol, ada sesuatu yang nyentil dan dia tuh bener-bener out of the box. Di samping ahlinya berkonyol-konyol, terkadang dia tuh (sok) bijak dalam melakoni kehidupan. Yak kayak di cerita "Di Balik Jendela", gegayaan banget dia sok tegar pasca putus dgn bilang : The world will keep moving on, and I will keep standing. ciiih..... eyatapi ada benernya juga,kan hidup mesti berlanjut, and everybody's changing. Jadi ya be strong! *lah kok jadi kasih tips"an gini yaa*

Yah pokoknya gitu deeh saya suka karyanya bang RD. Kalo mau diambil yang konyol-konyolnya dan ngehibur bisa, tapi buat saya karyanya RD bisa lebih bermakna dari sekadar buat hepi-hepian. That's for me siih... :)

18 April 2013
00:19 am

Minggu, 24 Maret 2013

B A H A G I A

Bahagia itu sederhana. Tak percaya? Coba deh baca:

Bahagia itu saat bisa tidur dengan nyenyaknya..

Bahagia itu saat bangun dari perjalanan mengarungi alam mimpi dan matahari telah menyapa..

Bahagia itu saat bisa mandi berlama-lama..

Bahagia itu saat perut lapar, sarapan terhidang di meja..

Bahagia itu saat melihat wajah anak kecil tertidur dengan pulasnya..

Bahagia itu saat menemukan uang (berapapun itu) di selipan kantong celana (apalagi pas tanggal tua)

Bahagia itu saat di angkot terbebas dari asap rokok yang mencemari udara..

Bahagia itu saat punya waktu untuk membaca..

Bahagia itu saat terhubung dengan-Nya dan bercerita dalam doa..

Bahagia itu saat menatap langit yang ceria menyapa..

Alhamdullilah, aku bahagia..

Dan bahagia itu... sederhana. Coba saja! :)







Minggu, 21 Oktober 2012

Simple Lesson from the Kids ;)

Hiiiiiiii.... long time no write over here.. well, sebenernya ada siih yang udah saya tulis di buku tulis sidu syahdu saya itu..tapiii, baru sempet posting ke sini-nya sekarang, soalnya lagi pengiritan boow jadi baru isi modem dan itu pun pake paket harian..hihiihi

Yasudah, mari kita mulai bercerita saja yaa.... Mmmmm, cerita yang mana yaa?? Mmm, sepertinya yang ini saja yaa:

19102012
Kalau buat anak sekolahan dan juga banyak orang yang bilang kalau hari Jumat adalah hari yang pendek (karena biasanya di sekolah jadi pulang cepat karena anak laki-laki mesti sholat Jumat, dan buat pekerja2 yang lbur di hari Sabtu, hari Jumat means the last day to work, jadi bawaannya Jumat-nya cepet berlalu aja), tapi itu tidak berlaku buat saya. Hari Jumat adalah hari tersibuk saya karena saya mesti mengajar di 3 kelas, dari pagi sampai sore, dan di 3 tempat yang berbeda.  Jadiii, gak ada tuh rasa-rasanya harinya jadi pendek atau apalah... (eh, lucu juga yak hari kok bisa dipendek-pendekin). Dan lagi yaa, yang saya ajar itu isinya dari pagi sampe sore bocah-bocah semua: dari yang pagi pukul 9-11 baduta-batita (bayi dua tahun - tiga tahun), pukul 14.00-16.00 bocah TK 4-5 tahun, dan terakhir pukul 16.00-18.00 bocah SD-- Kebayang dong yaa gimana rempongnya and serba menguras energinyaa~~~ tapii saya berusaha sekeras mugkin untuk menikmatinya (terlebih, menyenangkan sekali berada di lingkungan anak-anak), dan terkadang kita malah dapat belajar sesuatu dari bocah-bocah lugu itu... seperti apa yang terjadi di hari itu....

Nah, ceritanya di Jumat siang saya mengajar les calistung anak-anak TK.Usia mereka berkisar 4-5 tahun. Dan berhubung tadi paginya saya sudah bertemu bocah-bocah yang lebih atraktif, saya berasa energi saya bener-bener dikuras , diserap oleh mereka. Dan hari itu, tiba saatnya saya mati gaya di depan bocah-bocah TK itu mau diajarin apa. Bukannya saya kehabisan materi, tapi justru saya masih gak tega untuk terus-terusan menjejali mereka untuk latihan menulis. Jadi durasi 2 jam yang diberikan saya bagi menjadi 1 jam untuk menulis, dan selebihnya acara bebas. Nah, untuk acara bebas saya biasanya mengisinya dengan menyanyi, mewarnai, dan menggambar. What?? Menggambar? Yah, saya sih sadar talenta bangeet kalo gambaran saya "elek", tapi tuh bocah-bocah teteup minta digambarin.. hiihihi. Biasanya saya menggambar sesuai dengan request-an mereka. Lalu, ada seorang anak yang minta digambarkan rumah (Alhamdulillah yah, kalo rumah sih agak bisa berbentuk lah gambarannya). daan, dasar boah-bocah, liat temennya satu digambarin rumah-rumahan, yang lainnya pun jadi ikut-ikutan. Maka jadilah saya menggambarkan rumah, dan kemudian saya meminta mereka untuk menulis "house" di gambarnya, lalu diwarnai.

Kemudian, sampailah saya pada satu anak yang minta digambarin rumah juga, plus taman berbunga.

(well, masih bisa lah yaah kalo gambar bunga). Lalu saya pun asyik menggambar dan menawarkan anak tersebut gambar kupu-kupu, rumput, yah biar tamannya semarak gituu. Dan anak tersebut pun mengangguk setuju.

Ternyata ooh ternyata, di pojokan sana, terlihat seorang anak yang mogok nulis dan mukanya muram. Nah looh, kenapa coba? Pelan-pelan saya dekati anak tersebut, dan pelan-pelan juga saya bertanya padanya:
Saya    : Fira kenapa?
Fira      : Fira gak mau nulis. Urfa (teman yang duduk di sebelahnya) nakal.
Saya    : Loh, kenapa kok nakal?
Fira      : Itu Urfa dapet gambar ada bunganya. (yak, ternyata dia ‘cemburu’ kali yaa)
Saya    : Loh, kenapa begitu dibilang nakal. Tidak ada yang nakal kok. Fira mau digambarkan bunga juga?”
Dan bocah itu pun mengangguk lugu. Saya pun berkata, “Fira, kalau mau digambarin bilang ya… kalau Fira gak bilang, miss gak tau kalau Fira mau digambarin juga. Kalau Ufa tadi bilang, makanya dia dapat gambar bunga.” Kemudian bocah itu pun mengangguk lagi , sambil tersenyum kecil karena saya mengambil bukunya dan sibuk menggambar bunga. “Terus Fira mau digambarin apa lagi?” Fira pun langsung menjawab, “kupu-kupu..sama burung.. sama sapi…..” Well,well, kali ini sekalinya dia ngomong apa maunya, bikin saya kewalahan. Hehehe…

Dan tau gaak, setelah kejadian itu saya jadi lama sekalii berpikir , “How could I say: If you want something, just say it. People won’t know what you mean if you don’t express it.” Huuf.. sadar gak sih, terkadang kita (hiyaaa, sebenernya siih lebih ke “saya) susah banget untuk ngungkapin apa yang kita rasa, yang kita inginkan, apa yang kita maksud… dan terkadang, kita (prwakilan dari kata ‘saya’) berharap orang bisa ngerti keadaan kita tanpa kita perlu banyak berkata-kata. (part yang ini sya bangeeet). Yah, walau terkadang gak semuanya mesti diungkapkan dan sampe universe knows everything happen on you…. Tapi seenggaknya, kita (saya) mesti belajar untuk mengungkapkan sesuatu..agar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, agar ada respon  dan kelanjutannya, agar melegakan, dan agar agar lainnya…..

Soo, you, and so do I, be expressive …… ;)

Minggu, 30 September 2012

September Ceria - Oh ya? (Make it 'ya') ;)

Wake me up when September ends...

Hari ini lagi terngiang-ngiang bait lagunya Green day. Dan pas juga terngiang-ngiangnya di penghujung September. Well, September.... I thought it would be my month. Why did i expect like that?Coz September's my birthmonth (new term nih yee) hehehee.. But in fact, it's just so-so... :( dan malah cenderung flat and gloomy.. Oh noo!!

Eh tapi-tapi gak boleh terpuruk dalam ke'gloomy'-an... Mending inget kelugu-lucuan tempo dulu.... and flashback starts:

I couldn't forget my (silly) wish three years ago.. A wish that unpredictably came true.. And it got through for almost three years. Then time flies and from that wish I learn to have more and ask more wishes to God, and do more....
Sekarang rasanya lucuu inget betapa my three-years-ago-wish sounded sooo silly.. jiahahaa.. You could ask more, dear G! So there you go...
My (wish-not-silly-anymore) wishes:
* Get healthy
* Pass life happily
*Get powerful
*Be mature...
*Be positive thinker (bye bye skeptic)
*Be happy person and my existence also brings  happiness for all surround me...
*Get closed with You (who giving me chance to feel being 24-years-old-lady), my mom, fams, friends,..
*Be better and better and better ....
* ................................................................... (other wishes still run on my mind)

and I still have another wish yang efeknya nanti bisa dilihat dan mungkin akan dibahas di tahun mendatang... hiyaa.... wish me luck ya.... :)






 

Sample text

Sample Text