Social Icons

Pages

Kamis, 08 Agustus 2013

Perang Bantal

Hari kemenangan telah tibaa. Akhirnya sampai juga di satu syawal tahun 1434 Hijriah. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang merayakan kemenangan dan kembali ke fitrahnya setelah di bulan ramadhan kemarin kita berperang menahan hawa nafsu *postingan edisi lebaran*. 

Di hari lebaran juga biasanya jadi momen untuk berkumpul bersama keluarga. Biasanya keluarga besar berkumpul di rumah karena mami anak pertama (dari tujuh bersaudara) dan menempati rumah tua, jadi rumah ini dijadikan markas buat adik-adik mami berkumpul. Mami pun sudah sibuk menyiapkan semuanya dari jauh-jauh hari, menyiapkan makanan, bersih-bersih rumah, sampai menyiapkan bantal juga tak luput dari perhatian mami. Ya, berkaca dari pengalaman setiap kali kumpul keluarga besar, setelah ramai bercerita dan berbagi canda tawa, bermain bersama buat yang krucil-krucil, saat hari sudah larut malam pun masih ada yang terjaga dan ngobrol sana-sini. Buat yang sudah capek langsung ambil posisi mapan di kasur (kalau itu pasti saya yang tidur duluan :D) Nah, di saat yang tidur sudah terlelap lengkap dengan bantal guling, lalu yang asyik ngobrol dan begadangan itu mulai ngantuk, maka saat inilah konflik terjadi. Si pengobrol (sebut saja begitu biar gak ribet yaa) akan mengintai yang sudah tidur dan merebut bantal dari yang udah tidur. Saya sih tidak masalah kalau saat bangun tidur ternyata bantal & guling saya sudah pindah ke orang lain, tapii tidak dengan mami. Mami yang memang pada dasarnya susah tidur tambah gak bisa tidur kalau gak pake bantalnya (dia punya bantal sendiri dengan dua bantal atau bantal besar) dan seringkali mami gak kebagian bantal. Jadilah lebaran kali ini yang paling dia persiapkan itu bantal-bantal.

Lebaran kali ini memang lebih sepi dari lebaran sebelumnya. Kali ini hanya ada satu keluarga adik mami yang menginap di rumah. Sepertinya rumah bakalan semarak besok mengingat kakak saya sedang dalam perjalanan, dan juga satu lagi keluarga adik mami yang baru bisa bergabung besok. Tapi tetap saja, siap-siap lebaran kali ini juga harus jadi hari kemenangan buat kita, menang dalam perang perebutan bantal! :)

 bantal-bantal mami

bantal-bantal yang siap diperebutkan



August 8th, 2013
09:13 p.m


Selasa, 06 Agustus 2013

Glory Glory Greeny!


Greeny dalam pangkuan! ;)) Mari kembali bersesakan greeny sayang..


Dari sekian banyak benda-benda yang berserakan di kamar saya, saya paling ingat dengan awal kedatangan benda ini ikut menghuni kamar saya. Ia datang dan bergabung meramaikan kamar saya sejak dua puluh lima September , di saat umur saya bertambah menjadi dua puluh satu tahun. Ia merupakan kado ulang tahun dari teman-teman tersayang, my partners in crime & haha-hihi :D. Sejujurnya ini merupakan kali pertama saya mendapatkan kado dari orang-orang di luar keluarga. Bahkan keluarga saya pun jarang sekali memberi kado. Tak mengapa tidak mendapatkan kado, berada di orang-orang yang menyayangi kita dan kita sayangi sudah merupakan kado tersendiri, diiringi doa yang dipintal ke langit dari orang-orang terkasih. Itu sudah merupakan hadiah yang indah! Saat saya mendapatkan hadiah dari orang-orang tersayang, tentu saja perasaan saya tambah membuncah. Saking buncahnya saya, saya langsung meminta izin untuk langsung membuka kadonya, yang langsung diamini oleh teman-teman tersayang, daaan taraaaa.... saya mendapatkan boneka! "Tuh kita beliin lo boneka. Biar lo cewek dikit gitu. Biar lo ada kawannya kalo malem-malem, gak lagi sok mandiri en penyendiri." Begitu kata pengantar dari mereka, dan saya cuma bisa tersenyum sambil membatin, "apaan sih mereka ini?" 

Di mata teman-teman saya, saya adalah sesosok cewek yang cuek, tapi juga bisa jadi perhatian saat diperlukan, juga sangat mandiri. Saya memang terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Dalam bepergian misalnya. Saat harus pergi ke mana gitu, saat teman-teman saya sibuk mencari tebengan atau seseorang yang bisa mengantarkan mereka ke tempat tujuan (bisa minta tolong ke pacar, mantan, teman, atau gebetan), saya memilih pergi naik angkot saja selagi tempatnya bisa dijangkau dengan angkot. Selain saya tidak bisa meminta diantar siapa pun, toh kalaupun ada saya memilih untuk tidak merepotkan orang selagi saya bisa melakukannya sendiri. Saya juga yang paling penyendiri diantara mereka, yang paling mempunyai tabir yang tak tersentuh oleh mereka. Saya memang bukanlah tipe orang yang mudah mengungkapkan atau menunjukkan perasaan. "Susah tuh Git cari bonekanya yang warna ijo. Ada juga boneka ijo yang kodok, tapi masa lo dikasih boneka kodok sih. Tapi akhirnya nemu juga deh." Saya pun kembali tersenyum. Seharusnya tak mengapa dibelikan boneka kodok. Kali aja kalau saya cium berubah jadi pangeran :D. Saya pun menyampaikan terima kasih dengan perasaan tulus. Saya senang mereka mau bela-belain cari boneka dengan warna kesukaan saya, hijau.

Karena warnanya yang hijau (walau tidak dominan hijau), saya pun menamainya "Greeny". Greeny pun jadi teman tidur saya. Yang suka saya belai, peluk, bahkan saya cubit-cubit kalau sedang gemas. Terkadang saya juga bercerita ke greeny tentang keseharian saya. Benar ternyata tujuan teman-teman saya memberikan greeny, agar saya punya teman yang lain, yang bisa dijadikan tempat meluapkan sesuatu walaupun yang diluapi tidak bisa merespon apa-apa. Terkadang kita memang hanya butuh mengeluarkan apa yang bergemelut di dada dan kepala, tanpa mendapat tanggapan apa-apa. Dan barulah akhirnya kita merasa jernih untuk kemudian baru mengatasi apa yang telah berkecamuk selama ini.

Banyak yang mengira kalau greeny ini pemberian dari dia-yang-sudahlah-tak-usah-disebut-namanya. Memang timing kedatangan greeny berdekatan dengan saat saya mulai dekat dengan dia. Dia pun sudah saya kenalkan dengan greeny secara langsung. Saat itu di malam hari dia menunggu jemputan dari sahabatnya, saya yang sudah mengantuk sekali menunggui, dan saya pun mengajak greeny untuk ikut menemani dan sekalian berkenalan dengannya. "Ini greeny. Yang sering aku ceritain." Begitu kalimat perkenalannya. Setelah perkenalan itu, kemudian terkadang dia juga suka bertanya , "greeny apa kabar?" atau, "greeny sedang apa?" :D Ternyata dia pun ikut menanggapi keberadaan greeny di hidup saya. Mungkin karena saya yang menularinya untuk "menghidupkan" greeny karena saya kerap bercerita padanya apa yang saya lakukan dengan greeny. Ya itu, terkadang saya peluk, saya cubit, bahkan tak jarang saya ileri :D. Oh ya karena saya tidak bisa mengontrol diri saya dan il*r saya saat tidur, maka saya memutuskan untuk menyimpan greeny. Demi kebaikannya.


Sudah lama sekali saya menyimpan greeny di lemari papi, karena terkadang saat ada ponakan saya, greeny akan dilempar-lempar, jatuh, dan menjadi kotor. Saya tidak mau melihat greeny dekil dan kotor. Saya menyimpannya demi kebaikannya. Tunggu dulu? Demi kebaikannya. Gimana kalau greeny maunya di luar saja? Itu kan mau saya melihat greeny tetap bersih, tidak dekil. Sudah lama sekali saya tidak bercengkrama dengannya. Terkadang memang sesuatu yang sudah lama berada di dekat kita membuat kita lama-kelamaan jadi mengabaikannya. Maka sekarang saatnya greeny keluar dari persembunyian dan kembali melihat dunia - kamar saya, juga jadi kamarmu, greeny! :)

Note : buat dia, maukah kembali sekadar bertanya kabar greeny gimana. Tak perlu tanyakan kabar pemiliknya. Cukup ke greeny saja. Karena saya tidak akan pernah merasakan cukup hanya dengan ditanya kabar saja.


August 7th, 2013
01:47 a.m.




Kalung Cokelat

Cuek. Mungkin kesan itulah yang timbul saat mengenal saya. Kesan cuek bisa tertangkap dari sikap, atau cara saya berpenampilan. Kali ini saya mau membahas soal penampilan dulu. Saya memang cuek dalam berpenampilan. Cuek dalam artian tidak sibuk memikirkan "akan pakai baju apakah hari ini? atau "akan pakai baju apakah saat diundang ke pesta?" atau "bajuku kok itu-itu saja ya? aku tak punya baju yang lain." Saya tidak pernah ambil pusing mengenai penampilan. Selagi saya nyaman dan sesuai dalam mengenakan pakaian, maka selesailah sudah perkara soal penampilan. Pun saat saya memakai baju yang itu-itu saja, tidak masalah selagi bajunya wangi dan sudah dicuci :D. Baju yang lama tinggal dipadupadankan dengan yang lainnya, ditambah aksesoris, maka voila, pasti kece! Ah ya, aksesoris, si penunjang penampilan buat si cuek ini. Saya mempunyai berupa aksesoris kalung yang tersimpan di lemari kamar. Dan saya punya cerita tentang satu kalung berwarna cokelat.
 

salah satu teman tersayang & saya di acara pernikahan teman tersayang satunya. Gimana, cantik kan? :D

Kalung cokelat merupakan kalung favorit saya. Saya sering memakainya karena warnanya yang netral dan sesuai dengan baju-baju saya yang kebanyakan berwarna alam : hijau, cokelat, oranye. Jadi terlihat matching saat memakainya. Kalung ini juga sering mendapatkan pujian saat saya mengenakannya. Suka ada yang bilang, "kalungnya bagus deh. Beli dimana?" Duh, jangan tanya ini dibeli dimana, karena saat itu saya tidak menanyakannya pada si pemberi. Ya, kalung ini pemberian dari seorang teman atau kenalan dari acara radio sekitar empat tahun yang lalu. Bermula dari acara radio, kemudian bertukar id friendster (saat di ujung akhir kejayaan friendster), berlanjut di facebook, juga bertukaran nomor handphone. Saat itu saya dan ia intens berkomunikasi, dan saya mendapati ia sebagai seorang yang seru dan suka cerita, walau sering mendominasi dalam berbicara. Saya pun akhirnya tahu kalau ia ternyata bekerja di Kalimantan dan saat acara radio itu dia sedang dalam masa liburan.

Saat di Kalimantan, ia kerap menelpon saya, bercerita seputar kegiatannya di sana. Ia memang senang sekali bercerita, dan saya merasa lega karena saya tinggal menyediakan telinga untuk mendengarkan setiap ceritanya. Saya memang lebih suka menjadi pendengar daripada menjadi pencerita. Ada satu cerita darinya yang masih saya ingat. Saat itu ia sedang kesal karena orang-orang berkomentar jelek tentangnya karena ia memasang foto dengan memegang botol whisky. Lantas ia mempertanyakan pada saya akan pandangan orang-orang yang menurutnya seenaknya saja dalam menilai orang, "kenapa orang-orang langsung nganggep gue bejat lah? Langsung mikir negatif. Padahal kan gue cuma foto sama botol whisky kosong." Ingin rasanya saya menjawab , "ya lagian ngapain juga pake pasang foto begitu." tapi kalimat itu tidak saya lontarkan. Ia masih terus mendumel juga melakukan pembelaan-pembelaan, sampai tiba giliran saya untuk bicara ,"ya udahlah. Lo mikirin amat omongan orang." Dan ia pun sontak diam. Ada jeda diantara percakapan telepon itu. "Lo cuek banget sih." Begitu ia berkata. Sambil sedikit tertawa, saya membalas ucapannya, "Lah? ya ngapain juga diambil pusing. Lagian lo kenapa juga pasang foto begitu?" "Ya iseng aja. buat having fun." "Nah, kalau buat having fun kenapa juga sekarang lo jadi pusing. Kalo lo ngerasa keganggu tinggal apus. Beres." begitu tutup saya di telepon dan sepertinya ia bisa sedikit lega dan tidak lagi ribet memikirkan opini orang.

Baru pertama kali ini saya mendapatkan teman yang "berbeda". Saya hanya punya sedikit teman pria. Itupun biasanya merupakan teman saya saat sekolah, kuliah, atau teman organisasi. Ia merupakan teman pertama saya dari kalangan luar. Dari antah berantah. Gaya hidupnya pun berbeda. Menurut saya ia termasuk pria metropolitan dengan gaya hidup hura-hura. Pernah di suatu minggu pagi ia sudah menelpon saya dan bilang kalau ia tengah ada di salon, sementara saya masih berkutat dengan pekerjaan bersih-bersih rumah. Atau ia juga kerap bercerita habis party di Bontang. Duh, apa enaknya sih party dan clubbing? Enak juga tidur. Saya pun hanya mendengarkan ceritanya dan menanggapinya kalau perlu. Menurut pengamatan saya, ia memang lebih perlu orang yang mau mendengarkannya.

Cuek dan jutek. Begitu ia kerap mengalamatkannya pada saya. "Ya ampun, lo jutek amat sih ngangkat telepon." Begitu keluhnya. Sementara saya merasa memang seperti itu nada saya dalam menjawab telepon, dan ternyata, memang terkadang saya suka berbicara dalam nada tinggi yang menjadi kebiasaan buat saya. Suatu waktu ia bepergian ke Bali dan Yogya, sebelum kembali pulang dan ia sering sekali bertanya, "Lo mau oleh-oleh apa?" atau "Duh, gue beliin lo apa ya?" atau "Lo mau apaan. Kemaren temen gue minta sepatu gue beliin. Santai aja ama gue." Dan saya pun cuma bisa bilang "Gak usah repot-repot, ah." atau "gak usah deh. Entar menuh-menuhin bawaan lo." Begitu saja. Jujur saya tidak terbiasa menerima pemberian, apalagi dari orang yang baru dikenal. Walau saya dan ia berteman, tapi tetap rasanya tidak nyaman buat saya.

Teman-teman dekat saya tahu kalau saya tengah dekat dengan "stranger". Ya, teman-tean saya itu melabelinya dengan "stranger". Kata mereka ia bisa jadi suka dengan saya. Haah, apa-apan tuh analisanya? Yang jelas saya tidak menaruh perasaan apa-apa padanya. Hanya sebagai teman, dan saya senang bisa berteman dengan orang yang berbeda dengan saya. Menurut saya ia pun begitu, kami berteman karena perbedaan. Ia sepertinya ingin memperluas jajahan pertemanannya ke kalangan guru, begitu saya menjelaskan ke teman-teman. "Tapi gimana kalo dia suka sama lo. Lagi tiap apa-apa cerita sama elo. Ya apa lagi kalau bukan suka." Laah, kalau ia suka ya itu kan perasaan dia ya. Ya saya bakal tetap begini sama dia. Berteman. Begitu lontar saya. Dan langsung saya ditoyor teman-teman tersayang, "dasar cuek bebeeeek!"

Pada suatu kesempatan pulangnya, saya dan ia bertemu. Saya mengajak satu teman tersayang saya dan ia mengajak adiknya. Ia pun memberikan oleh-oleh ke saya, "ini akhirnya gue beliin lo kalung. Sama tuh sama penyiar-penyiar Oz. Mereka pada seneng dan bilang kalungnya bagus." Begitu kalimat pengantarnya. Saya pun menyambut pemberiannya dan mengucapkan terima kasih. Setelahnya, saya, bersama teman saya ditraktir nonton. Lumayanlaah hiburan gratis! :D Setelah pertemuan itu, ia pun mengajak saya untuk kembali bertemu lagi. Kali ini hanya berdua saja. Tapi saya tidak bisa menyanggupinya. Entah mengapa saya malas kalau mesti jalan hanya berdua. Saya tidak masalah sendiri menemuinya, asalkan ia mengajak adik perempuannya agar saya bisa sedikit meredam kegemarannya dalam bercerita yang mendominasi. Dan saat kepulangannya kali itu, saya sempat pergi beberapa kali dengannya, juga adiknya. Senang bisa punya teman sepertinya yang walaupun berbeda, tetapi bisa berbaur dengan sendirinya.

From stranger into friend, and back into stranger. Sekarang saya dan ia tidak berkomunikasi lagi. Saya lupa sejak kapan tepatnya, mungkin saat saya tengah sibuk, dan ia pun juga begitu. Tapi tak mengapa. Pertemanan ini akan tetap terkenang. Dan karena kalung cokelat ini, saya jadi ingat akan cerita ini yang mungkin sempat terlupa. Oh ya, saya  memang cenderung senang berteman dan berbagi cerita dengan strangers. Sensasi untuk mengenal stranger lebih dekat itu seru, dan saya suka wondering how could strangers come into my life, and later on i know more about them. maybe, because i let them come. Any strangers, then? :D


August 6th, 2013
11:50 p.m.



Minggu, 04 Agustus 2013

Longdress w/ long-term sweetness left

Setiap orang pasti punya baju kebangsaan. Itu loh, semacam baju yang suka sering sekali dipakai, baju yang termasuk golongan CKP, Cuci-Kering-Pakai. Saya punya beberapa baju kebangsaan. Salah satunya longdress bergaris-garis ini. Longdress ini saya dapatkan gratis, saya dapat lungsuran baju dari mami. Waah, senangnya! Walaupun longdress ini mungkin sudah berumur 30-an tahun, bahkan bisa jadi umurnya lebih tua lagi (woow, agak terpana juga sama umurnya), tapi baju ini bahannya masih bagus , modelnya simpel tapi menawan. Pokoknya saya sukaa banget!

Awalnya saya mengenakan longdress ini hanya di acara-acara tertentu saja, seperti saat pesta ulang tahun, pesta pernikahan, atau di acara keluarga. Namun lama kelamaan, saya jadi gandrung memakainya saat bepergian, bahkan untuk kerja pun saya kerap memakainya. Mungkin karena longdress itu kan praktis ya makenya, gak ribet, makanya saya sering memakainya. Mami bahkan sering menegur saya ,"kamu kayak cuma punya baju itu , mbak. Itu lagi itu lagi yang dipake." Saya cuma bisa nyengir. Habis nyaman, sih!

 Saya juga punya cerita lain tentang longdress ini. Di suatu kesempatan saya pernah mengenakannya saat bertemu dengan dia-yang-sudahlah-tak-usah-disebutkan-namanya. Saya janjian dengannya untuberkunjung ke rumah kakak saya. Rumah kakak saya dekat dengan rumah sahabatnya, tempat dia menginap saat berkunjung ke kota saya, maka saya memintanya untuk main ke tempat kakak saya saja, sekalian saya bisa melepas rindu dengan ponakan saya. Dia datang tak lama setelah saya mengirim kabar kalau saya sudah di rumah kakak saya. Dia datang membawa buku-buku yang dipinjam dari rumah saya. Dan tahukah, sepanjang di rumah kakak saya dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku. Mungkin dia bosan. Mungkin dia bingung ada di rumah kakak saya. Saya malas bermungkin-mungkin, dia pasti punya alasannya sendiri. Maka saya tidak mau ambil pusing dan saya pun sibuk main dengan ponakan, juga sesekali mengajak ngobrol dia yang masih asyik dengan bukunya. Saya tahu terkadang saat membaca buku kita bakal asyik masuk ke dalam cerita yang dibanfun sang penulis, karena saya juga pecinta buku, tapii, bisa nanti dulu gak sih bacanya? Kan jarang-jarang bisa ketemu. Bisa cerita-cerita. Begitu kira-kira suara hati saya. Saya pun beranjak dari tempat duduk, saat kemudian dia berkata, "please turn around..." Aneh. Sedari tadi dia asyik membaca, tapi tahu-tahu menyuruh saya. Namun seperti kena mantra, saya pun menurutinya. Berputar di hadapannya. Dan dia pun tersenyum, lantas berkata"you look sexy." Saya tidak tahu harus bilang apa dan saya juga butuh cermin segera untuk melihat ekspresi saya, bersemu merahkah, atau bagaimana? Namun untuk menutupi keterkejutan saya, saya pun membalas ucapannya, "and pretty, hah?" . "Yes, you look sexy and pretty wearing this"

Setelah kejadian itu saya pun bertekad untuk kerap kali bertemu dia mengenakan longdress tersebut. Bukan karena saya dibilang seksi dan cantik saat mengenakannya (walaupun saya senang dan melambung tinggi saat dipuji), tapi lebih ke ingin menyenangkan dia. Tapi justru saya tidak pernah mengenakan longdress ini lagi saat di beberapa kesempatan bertemu dengannya. Dan dia pun tidak menanyakannya. Mungkin ada baiknya juga saya tak lagi mengenakannya di hadapannya. Agar  kesan yang tertinggal dari longdress ini tetap surprisingly sweet, seperti saat dia yang saya pikir cueek, tapi ternyata memperhatikan saya dengan melontarkan pujian yang manis dan membuat saya bersemu merah.
 
Sekarang longdress ini tergantung di kamar. Pertanda saya habis mengenakannya, dan akan mengenakannya lagi untuk dua kali pakai sebelum dicuci. Ya, saya sering sekali mengenakannya. Bukan karena pernah mendapatkan pujian, tapi karena kepraktisannya saat memakainya. Dan saat saya mendapatkan pujian, itu jadi kenangan tersendiri buat saya pribadi. Ohya, di awal tadi saya bilang kalau longdress ini awalnya milik mami dan mungkin sudah berumur 30-an tahun. Saya jadi penasaran apa mami pernah mendapat pujian juga ya? Dari papi mungkin :). Yang jelas longdress ini pasti telah menyimpan banyak kisah, bertemu banyak orang, juga banyak berjasa untuk mendukung pemakainya untuk tampil cantik. Keep stunning on me, dear longdress!



August 5th, 2013
02:07 a.m.

Note : Thanks for your long-time-ago compliment. Red effect on my face won't go away even I just recall that moment. You might forget, but I keep it.

Kain Pantai Bali



Saya belum pernah ke Bali, tapi bagaimana bisa kain pantai khas Bali ini ada di kamar saya? Oh iya, ini pemberian adik saya yang habis KKN di Bali beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya mami yang meminta adik saya untuk membelikannya kain pantai itu. Jika kebanyakan orang memakainya saat di pantai, mami malah menggunakannya sebagai selimut. Lebih nyaman dan tidak gerah memakainya memang. Saya pun jadi ikut-ikutan memakainya sebagai selimut.

Kain,pantai, dan Bali. Duh, jadi ingin ke Bali! Mengunjungi tempat-tempat yang eksotis, melihat pura, menelusuri pantai, berbelanja kain Bali lagi juga. Oh ya, saya juga sebenarnya ingin mengadakan acara di Bali: acara pernikahan. Pasti seru sekali mengadakan pesta di pinggir pantai dengan mengundang orang-orang terdekat saja - more intimate orang bilang. Tapi sepertinya berat juga karena saya berasal dari keluarga besar dan ingin keluarga besar berkumpul. Atau begini, saya ke Balinya saat bulan madu saja nanti bersama suami. Aaah, dari kain jadi berencana begini. Yang pasti kalau saya ke Bali, saya akan beli kain pantai Bali. Tetap mau dijadikan selimut. Selimut kita berdua. :)


August 5th, 2013


Sabtu, 03 Agustus 2013

Buku Tulis Kero Keroppi




Buku tulis ini sebenarnya lebih sering bersemayam di dalam tas daripada main-main di kamar. Tapi karena proyek menulis 31 hari ini, saya butuh dekat-dekat dengan buku ini untuk menulis-nulis, juga mencoret-coret, sebelum kemudian apa yang saya tulis & corat-coret dituangkan ke blog. Ya, saya memang tipikal yang tidak bisa menuangkan tulisan langsung di depan komputer. Bisa siih, tapi lebih nyaman membuat tulisan tangan terlebih dahulu walaupun penuh dengan coretan dan juga gambar-gambar gak jelas. Setidaknya bisa membantu saya untuk tetap konsisten menulis, karena kalau langsung mengetik, saya suka kehilangan interest : malah larinya ke sosial media atau media online, lantas lupa blogging -____-. Maka demi tertibnya proses menulis ini, saya perlu media untuk menyalurkan coretan-coretan, yaitu melalui buku.

Sedikit menilik kapan buku tulis ini bisa saya pulang. Saya membelinya di pertengahan Mei lalu (ternyata saya masih menyimpan struk belanjanya :D). Sudah sekitar tiga bulan, tapi tidak banyak yang sudah saya tuliskan. Hanya berisi catatan tagihan pulsa (perkenalkan, saya gadis penjual pulsa), catatan belanja kerjaan, dan coretan-coretan iseng. Beda banget kalau dibandingkan sama waktu jadi anak sekolahan, pasti bukunya udah banyak catatan-catatan. Atau kalau tidak banyak catatan, suka ada curhatan-curhatan tertulis di buku. Atau menyobek kertas dan mengedarkannya di bangku-bangku terdekat sebagai sarana buat ngobrol tanpa suara. Aaah, ternyata makin ke sini saya semakin jarang menulis dan melupakan sensasi menulis, dengan tulisan yang rapih, atau kalau buru-buru nulisnya acak-acakan, coret sana sini (saya tidak suka memakai correction pen), dan termasuk sensasi pegal di jari kalau kebanyakan nulis! ;)

Maka sepertinya dari proyek menulis ini saya bakal memenuhi buku tulis ini dengan tulisan ceker ayam plus coretan-coretannya. Saya pun telah membuat daftar benda-benda apa saja yang akan saya ceritakan, walaupun baru berhasil mendaftar 26 benda, Itupun belum tentu bakal "dihidupkan" melalui cerita. Nah di sini buku tulis ini bakal siap menampung apa saja yang terlintas dalam kepala saya.

Buku tulis sayang, siap-siap ya saya curahkan apa yang terlintas, apa yang saya rasa. Semoga kamu gak marah kalau saya suka corat-coret ketimbang nulis, karena itu pun cara saya menyalurkan apa yang saya rasa. Saya juga sudah melindungi dan mendadani kamu dengan baju kero kero keroppi, bukan baju seragam cokelat lagi, semoga kamu suka! :)


August 3rd, 2013
10:39 p.m.

Jumat, 02 Agustus 2013

Kue Kasih Sayang

Ini hari kedua proyek menulis #CeritaDariKamar dan saya ingin sekali bertahan hingga hari ke-31. Satu hari satu cerita tentang satu benda di kamar, ayolaah pasti bisa! *pasang ikat kepala*. Oya, saya pun sudah mendaftar benda-benda apa saja yang akan ditulis, tapi oh tapi malah yang akan saya tulis kali ini bahkan belum masuk list, sudah main nyerobot antrian untuk diceritakan. Saya pun baru mendapatkannya tadi sore, tapi karena khawatir benda ini tidak bakal bertahan lama, maka saya putuskan untuk menulisnya sekarang. Untuk benda-benda yang sudah masuk list, harap maklum dan bersabar yaa.... :)

Hari ini saya senang sekali karena sepulang kerja ada sesuatu yang lain yang saya bawa. Saya mendapat bingkisan dari eyangnya Nabil, murid di kelas Eaglet yang baru berumur 2-3 tahun.  Aah, siapa yang tidak senang jika mendapatkan hadiah dan diberikan dengan tulus. Sesampainya di rumah saya membuka bingkisan yang terbungkus kertas kado itu. Ternyata isinya kue Monde. Wuaah, saya suka sekali kue ini. Dan sedang ada ponakan juga di rumah yang suka kue Monde, jadilah kue yang mungkin dimaksudkan sebagai bingkisan buat lebaran nanti sudah dibuka duluan. :D

Lantas apa yang spesial dari kue kaleng ini? Toh, bisa dibeli dimana-mana. Saya ingat tadi sebelum saya mendapatkan bingkisan ini teman saya bilang kalau kita (saya dan dia) dapat bingkisan dari eyangnya Nabil. Lantas eyangnya Nabil bilang, "Miss, jangan dilihat dari nilainya ya, tapi dilihat kasih sayangnya Nabil." Duuuuuh, terharu loooh! Nabil (berumur sekitar 2-3 thn) baru bergabung di kelas Eaglet (semacam Paud gitu, tapi bukan Paud). Dia biasa ditunggui oleh eyangnya ini. Walaupun tergolong baru, Nabil sudah mulai bisa dekat dengan saya dan teman saya, dan berhasil tidak ditunggui lagi saat di dalam kelas. Yeaaay! Dia juga tipikal murid yang menyenangkan dan suka mencari miss-nya kalau salah satunya saja tidak ada. Menyenangkan memang berhadapan dengan bocah-bocah ini, walau pastinya perlu energi dan perhatian ekstra untuk mereka. Nah, kali ini saya senang sekali karena apa yang saya dan teman saya lakukan mendapat apresiasi dari wali murid. Senang rasanya mendapat perhatian juga dari wali murid dan saat murid itu juga sayang ke kita. Terimakasih buat pemberiannya. Juga untuk kasih sayangnya Nabil.. dan murid-murid lainnya.

Malam ini saya pun tengah menyantap kue kasih sayang dari Nabil di kamar sambil mengetik tulisan ini. Ada yang mau jugaa? :)  

 nyam..nyam..nyam..
Fira, Nabil, dan Velie di kelas

August 2nd, 2013
11:35 p.m.
 

Sample text

Sample Text